Pembelajaran matematika terus mengalami transformasi seiring berkembangnya teknologi dan pendekatan pedagogis. Salah satu inovasi menarik hadir melalui penerapan model flipped classroom yang dipadukan dengan pendekatan kontekstual pada materi kesebangunan dan kekongruenan. Model ini terbukti mampu mendorong keterlibatan aktif siswa sekaligus meningkatkan pemahaman konsep secara lebih mendalam.
Demikian dipaparkan oleh Eka Senjayawati, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Matematika pada saat mempertahankan penelitiannya yang berjudul Penalaran Analogi, Generalisasi, dan Resiliensi Matematis Siswa SMP melalui Implementasi Desain Didaktis Berbasis RME-FLIPPED pada acara Sidang Promosi Doktor FMIPA UNY pada Senin, 6/4/26 di Ballroom gedung Magister dan Doktor FMIPA. Dewan Penguji pada kesempatan tersebut yaitu Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si. (Ketua/Penguji), Dr. Djamilah Bondan Widjajanti, M.Si., Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd., MA (Penguji I), Prof. Dr. Dhoriva Urwatul Wutsqa (Penguji 2), Prof. Dr. Sugiman, M.S. (Promotor/Penguji), dan Dr. Elly Arliani, M.Si. (Kopromotor/Penguji).
Lebih lanjut, Eka Senjayawati mengatakan, dalam implementasinya, siswa tidak lagi hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi terlebih dahulu mempelajari video pembelajaran secara mandiri di rumah. Video tersebut menampilkan berbagai konteks nyata, seperti bangunan di tempat wisata maupun fenomena sehari-hari yang berkaitan dengan konsep matematika . Dengan cara ini, siswa memiliki gambaran awal sebelum memasuki pembelajaran tatap muka.
Saat di kelas, kegiatan difokuskan pada diskusi kelompok, pemecahan masalah, serta eksplorasi konsep. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, memantau, dan memberikan scaffolding bagi siswa yang mengalami kesulitan . Siswa juga diajak untuk melakukan aktivitas konkret, seperti mengukur dua benda yang sebangun dan kongruen, kemudian menganalisis hubungan antara panjang sisi dan sudutnya.
“Pendekatan ini tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga proses berpikir siswa. Mereka dilatih untuk mengidentifikasi kesamaan pola, menyusun kesimpulan, serta mengaitkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari . Misalnya, melalui permasalahan kontekstual seperti menghitung tinggi pohon berdasarkan bayangan, siswa belajar menerapkan konsep kesebangunan secara nyata”, lanjut dosen Pendidikan Matematika IKIP Siliwangi ini.
Selain itu, pembelajaran juga dirancang untuk membangun resiliensi matematis. Siswa didorong untuk tetap percaya diri, tidak mudah menyerah, serta menjadikan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar . Refleksi di akhir pembelajaran menjadi momen penting bagi siswa untuk mengevaluasi usaha dan pemahaman mereka. Hasilnya, siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam berbagai situasi. Mereka menjadi lebih aktif, kritis, dan kolaboratif dalam belajar. Model ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar mandiri sekaligus memperkuat interaksi sosial di dalam kelas. Dengan demikian inovasi ini sebagai wujud nyata kontribusi kepada dunia pendidikan melalui pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kualitas.
Eka menambahkan, dengan mengintegrasikan teknologi, konteks nyata, dan strategi pembelajaran aktif, inovasi ini menunjukkan bahwa matematika dapat dipelajari secara lebih menarik dan bermakna. Pendekatan seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan dalam menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. (witono)