Yogyakarta, 21 September 2026 — Mengapa suatu penyakit dapat ditemukan pada beberapa anggota keluarga, tetapi tidak pada anggota keluarga lainnya? Pemahaman mengenai pewarisan sifat menjadi bagian penting dalam pembelajaran Biologi karena berkaitan dengan keberagaman karakter dan kondisi biologis manusia. Melalui pembelajaran materi gametogenesis dan pewarisan sifat, Anisa Cahya Wahyu Pratama, mahasiswa Praktik Kependidikan Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA UNY, mengajak peserta didik kelas XII-2 SMA N 3 Yogyakarta memahami bagaimana informasi genetik dibentuk, diwariskan, dan menghasilkan variasi pada keturunan. Pembelajaran dilaksanakan pada 27 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan PK sekaligus mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4 yaitu Quality Education melalui pembelajaran yang mengembangkan pemahaman konseptual, kemampuan berpikir kritis, dan penalaran ilmiah. Pembelajaran ini juga berkaitan dengan SDGs 3 yaitu Good Health and Well Being melalui penguatan literasi genetik sebagai dasar pemahaman peserta didik mengenai kesehatan manusia.
Pembelajaran dirancang menggunakan model Problem Based Learning (PBL) untuk mengarahkan peserta didik memahami konsep genetika melalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan. Kegiatan diawali dengan pembahasan gametogenesis dan proses meiosis sebagai dasar pembentukan sel kelamin, kemudian dilanjutkan dengan kromosom, gen, alel, serta mekanisme pewarisan sifat berdasarkan hukum Mendel. Peserta didik dihadapkan pada permasalahan yang mendorong mereka menelusuri bagaimana pemisahan kromosom dan kombinasi materi genetik selama reproduksi dapat menghasilkan variasi pada keturunan. Proses pembelajaran diperkuat melalui diskusi, analisis permasalahan, dan pemecahan persoalan persilangan untuk menghubungkan konsep genotipe, fenotipe, serta kemungkinan karakter yang muncul pada keturunan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses penyelidikan dan diskusi, sedangkan guru pamong memberikan pendampingan selama pembelajaran berlangsung.
Pemahaman mengenai variasi genetik memiliki relevansi yang lebih luas ketika dikaitkan dengan kesehatan. National Human Genome Research Institute (NHGRI) menjelaskan bahwa sebagian besar DNA manusia memiliki kesamaan, sementara sebagian kecil variasi genom berkontribusi terhadap perbedaan karakteristik antarmanusia dan, pada sebagian kasus, dapat memengaruhi kerentanan terhadap penyakit. Variasi genetik tertentu bahkan diketahui berperan pada kondisi seperti cystic fibrosis dan sickle cell disease. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsep yang dipelajari di ruang kelas memiliki hubungan dengan perkembangan ilmu kesehatan dan kedokteran. WHO juga memperkirakan sekitar 6% bayi di dunia lahir dengan kelainan kongenital, dengan penyebab yang antara lain mencakup kelainan gen tunggal dan kelainan kromosom. Dengan demikian, pembelajaran gametogenesis dan pewarisan sifat tidak hanya memberikan manfaat berupa penguasaan materi akademik, tetapi turut membangun literasi kesehatan dan kemampuan berpikir kritis agar peserta didik dapat memahami informasi mengenai genetika dan penyakit secara lebih ilmiah.
Melalui kegiatan ini, pembelajaran genetika diharapkan dapat memberikan bekal yang melampaui kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal persilangan. Pengetahuan mengenai gametogenesis dan pewarisan sifat diharapkan dapat membantu siswa memahami keberagaman biologis manusia serta menyikapi informasi mengenai kondisi genetik dan kesehatan secara lebih kritis. Ke depan, pembelajaran Biologi dapat terus dikembangkan dengan menghadirkan kasus-kasus autentik dan isu kesehatan yang dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga konsep genetika tidak berhenti sebagai materi akademik, tetapi menjadi literasi yang dapat digunakan untuk memahami persoalan kehidupan secara ilmiah dan bertanggung jawab.