Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) telah melaksanakan kegiatan pembelajaran inovatif berbasis kearifan lokal di SMP Negeri 2 Sleman pada kelas VII. Kegiatan pembelajaran ini mengusung pendekatan etnomatematika melalui pemanfaatan media wayang pada materi operasi bilangan bulat positif dan negatif. Penggunaan wayang dalam pembelajaran bertujuan untuk menghubungkan konsep matematika dengan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Yogyakarta. Melalui pendekatan ini, pembelajaran matematika diharapkan menjadi lebih kontekstual, menarik, dan mudah dipahami oleh murid. Kegiatan pembelajaran ini juga berkaitan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education).
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membantu murid memahami konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat positif dan negatif melalui pengalaman belajar yang lebih konkret. Dalam pelaksanaannya, media wayang digunakan bersama dengan garis bilangan yang telah disediakan pada Lembar Kerja Murid (LKM). Wayang dianalogikan sebagai seekor kelinci yang bergerak atau melompat pada garis bilangan. Ketika bilangan yang digunakan bernilai positif, wayang menghadap ke arah kanan atau sumbu positif, sedangkan ketika bilangan bernilai negatif, wayang menghadap ke arah kiri atau sumbu negatif. Dengan demikian, arah hadap wayang menjadi representasi dari tanda positif dan negatif dalam bilangan bulat.
Konsep operasi penjumlahan dan pengurangan kemudian divisualisasikan melalui gerakan wayang pada garis bilangan. Pada operasi penjumlahan, wayang bergerak atau melompat ke depan sesuai dengan arah hadapnya. Sementara itu, pada operasi pengurangan, wayang bergerak atau melompat ke belakang dari arah hadapnya. Penggunaan media ini memberikan kesempatan kepada murid untuk melihat secara langsung hubungan antara tanda bilangan, arah gerak, dan hasil operasi. LKM yang digunakan dalam pembelajaran telah dilengkapi dengan garis bilangan pada setiap soal sehingga murid dapat lebih terfokus dalam menggunakan strategi wayang melompat untuk menentukan hasil operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat.
Kegiatan pembelajaran mendapatkan respons yang positif dari murid. Murid terlihat antusias ketika diberikan kesempatan untuk mencoba menyelesaikan soal menggunakan media wayang di depan kelas. Aktivitas tersebut memberikan suasana belajar yang lebih menyenangkan karena murid dapat merasakan pengalaman seperti sedang mendalang, tetapi dalam konteks pembelajaran matematika. Penggunaan wayang tidak hanya menjadi media untuk merepresentasikan konsep bilangan bulat, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan unsur budaya lokal dalam kegiatan pembelajaran matematika.
Setelah pembelajaran dilaksanakan, murid terlihat lebih aktif dalam mengerjakan soal menggunakan media wayang dan garis bilangan. Penggunaan media tersebut juga membantu murid dalam memahami konsep penjumlahan dua bilangan positif maupun dua bilangan negatif. Murid dapat membayangkan arah gerak bilangan melalui pergerakan wayang pada garis bilangan sehingga konsep yang sebelumnya bersifat abstrak dapat direpresentasikan secara lebih konkret. Dengan demikian, pembelajaran melalui media wayang memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan murid memahami operasi bilangan bulat melalui visualisasi dan aktivitas secara langsung.
Kegiatan pembelajaran berbasis etnomatematika ini memberikan kontribusi terhadap SDGs Tujuan 4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan budaya lokal sebagai bagian dari pembelajaran dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih relevan, menyenangkan, dan bermakna bagi murid. Pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada kemampuan melakukan operasi hitung, tetapi juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal dan memanfaatkan unsur budaya lokal dalam memahami konsep matematika. Penggunaan media yang sederhana dan mudah digunakan juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan pembelajaran yang aktif dan berpusat pada murid.
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan Praktik Kependidikan (PK), perangkat pembelajaran berupa Lembar Kerja Murid (LKM), media wayang, garis bilangan, dan modul ajar berbasis etnomatematika telah digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran. Perangkat tersebut dapat menjadi alternatif bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran matematika yang mengintegrasikan budaya lokal. Diharapkan pemanfaatan wayang dalam pembelajaran bilangan bulat dapat menjadi salah satu inspirasi dalam menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih menyenangkan, kontekstual, dan berkualitas.
Belajar Operasi Bilangan Bulat Menggunakan Wayang, Mahasiswa PK UNY Hadirkan Pembelajaran Etnomatematika Guna Mendukung Quality Education (SDGs 4) di SMP Negeri 2 Sleman
Berita Lain
Post date:
Post date: