Keterbatasan alat laboratorium tak lagi menjadi penghalang bagi siswa SMA Negeri 1 Pajangan, Kabupaten Bantul, untuk mempelajari sains secara eksperimental. Melalui pemanfaatan simulasi praktikum digital, pembelajaran fisika kini hadir lebih interaktif sekaligus membuka akses belajar yang merata bagi seluruh siswa. Kegiatan ini digagas oleh Annisa Salsabila Pritanova, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Fisika, bersama siswa kelas XI B yang berjumlah 35 siswa pada 29 Juli–3 Agustus 2026.
Pembelajaran yang mengangkat materi gaya gesek ini dirancang untuk memberi pengalaman belajar yang kontekstual dan berbasis teknologi. Inisiatif ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat, Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui penguatan literasi digital dan penyediaan sarana belajar yang inklusif bagi seluruh siswa.
Rangkaian kegiatan diawali pada Rabu, 29 Juli 2026 di ruang kelas, dengan penyampaian materi konsep gaya gesek serta pengenalan aplikasi simulasi PhET kepada siswa. Usai pemaparan materi, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diarahkan untuk menjalankan eksperimen virtual secara mandiri, mengamati pengaruh jenis permukaan, berat benda, dan gaya dorong terhadap besar kecilnya gaya gesek yang bekerja pada suatu objek. Melalui simulasi ini, siswa dapat memvariasikan parameter secara berulang dan mengamati perubahan gaya gesek secara langsung, sesuatu yang sulit dilakukan secara presisi dengan alat praktikum fisik yang terbatas di sekolah. Selanjutnya, pada Senin, 3 Agustus 2026 pukul 09.20–11.40 WIB, setiap kelompok mempresentasikan hasil pengamatan dan analisisnya di depan kelas, dilanjutkan diskusi dan tanya jawab antarkelompok. Seluruh perangkat ajar dan skenario pembelajaran dikonsultasikan secara berkala dengan Guru Pamong, Agus Sugiharto, S.Pd., M.Pd.
Annisa Salsabila Pritanova mengungkapkan, pendekatan digital ini memberi dampak positif tidak hanya pada pemahaman konsep, tetapi juga pada keterampilan abad ke-21 siswa. Melalui simulasi dan presentasi kelompok, siswa terlatih berpikir kritis, mengasah literasi sains dan digital, serta membangun kepercayaan diri dalam menyampaikan hasil kerja secara ilmiah di depan kelas. Dari sisi capaian SDGs, kegiatan ini berkontribusi pada terciptanya pembelajaran yang inovatif, inklusif, dan berpusat pada siswa, sekaligus mempersiapkan generasi muda dengan kecakapan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
"Ke depan, harapannya sekolah dapat terus mengembangkan pemanfaatan simulasi digital sebagai pelengkap praktikum konvensional, terutama untuk materi-materi yang sulit dijangkau secara fisik. Melalui pengalaman belajar seperti ini, siswa tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang adaptif terhadap teknologi dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital," ujar Annisa Salsabila Pritanova.