Yogyakarta, 26 Agustus 2026 — Upaya pelestarian keanekaragaman hayati tidak cukup hanya dengan mengetahui bentuk pelestarian in situ dan ex situ. Siswa juga perlu memahami kondisi yang dihadapi sebelum menentukan bentuk pelestarian yang sesuai. Hal tersebut menjadi bagian dari pembelajaran Biologi materi Pelestarian Keanekaragaman Hayati bersama siswa kelas X E6 SMA Negeri 4 Yogyakarta yang dibimbing oleh Azmy Zakia Azzahra, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Melalui kegiatan Biodiversity Rescue Mission, siswa diajak menganalisis permasalahan berdasarkan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada habitat orangutan. Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 15: Life on Land, yang berkaitan dengan perlindungan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati.
Pembelajaran diawali dengan mengingat kembali kegiatan debat pada pertemuan sebelumnya mengenai pembatasan aktivitas manusia di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Selanjutnya, siswa mengamati video mengenai evakuasi orangutan akibat karhutla dan mengidentifikasi kondisi habitat, penyebab orangutan keluar dari habitatnya, serta dampaknya terhadap keselamatan dan populasi orangutan. Dengan model Discovery Learning, siswa diarahkan untuk menemukan informasi yang dibutuhkan melalui pengamatan, diskusi, dan penelusuran berbagai sumber. Kegiatan kemudian dilanjutkan melalui Biodiversity Rescue Mission (Conservation Blueprint) dalam LKPD. Secara berkelompok, siswa mengidentifikasi permasalahan pada kasus, mencari informasi mengenai bentuk pelestarian in situ dan ex situ, serta menelusuri berbagai tindakan yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan orangutan dan memulihkan habitatnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, siswa menentukan bentuk pelestarian yang sesuai, baik in situ, ex situ, maupun kombinasi keduanya. Siswa kemudian menyusun strategi pelestarian dengan mempertimbangkan kondisi habitat, ancaman, populasi, dan peran masyarakat. Hasil strategi dipresentasikan dan dibandingkan dengan gagasan kelompok lain sehingga siswa dapat menemukan gagasan yang berbeda maupun saling melengkapi. Pada akhir pembelajaran, siswa mengerjakan post-test untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari. Rangkaian kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan penalaran kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas dalam menentukan tindakan pelestarian. Pembelajaran ini juga menunjukkan keterkaitan antara pelestarian keanekaragaman hayati dengan SDG 15, khususnya upaya menjaga habitat dan keberlanjutan ekosistem daratan.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami perbedaan pelestarian in situ dan ex situ, tetapi juga mampu mempertimbangkan kondisi permasalahan dalam menentukan strategi pelestarian. Pemahaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa untuk lebih memperhatikan keberadaan keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga habitat serta keberlanjutan ekosistem dalam kehidupan sehari-hari. (Azmy Zakia Azzahra)
Biodiversity Rescue Mission: Belajar Menganalisis Kasus dan Merancang Strategi Pelestarian Bersama Siswa SMA Negeri 4 Yogyakarta
Berita Lain
Post date:
Post date: