Yogyakarta, 10 September 2026 — “Kalau kelompoknya laki-laki semua, saya perempuan sendiri, bagaimana, Bu?” Pertanyaan sederhana dari seorang siswa kelas VII A SMP Negeri 14 Yogyakarta menjadi salah satu pengalaman yang menguatkan pentingnya membangun kesetaraan gender dalam pembelajaran.
Pertanyaan tersebut muncul ketika siswa menghadapi situasi pembagian kelompok yang membuat anggota kelompoknya didominasi oleh siswa laki-laki, sementara dirinya menjadi satu-satunya siswa perempuan. Bagi siswa SMP, bekerja sama dalam kelompok yang terdiri atas teman laki-laki dan perempuan terkadang masih terasa canggung atau belum terbiasa. Situasi serupa juga dapat terjadi ketika seorang siswa laki-laki berada dalam kelompok yang didominasi siswa perempuan.
Menanggapi hal tersebut, Anantasya Asmarani Batudawati, mahasiswa Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berusaha menanamkan pemahaman bahwa perbedaan gender bukan alasan untuk membatasi kerja sama dalam pembelajaran.
“Tidak apa-apa. Berdiskusi dan belajar bisa dengan siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki,” menjadi pesan yang terus ditekankan kepada siswa selama kegiatan pembelajaran.
Pesan tersebut hadir dalam praktik pembelajaran matematika yang dilaksanakan pada 10 September 2026 dalam rangka penguatan materi bilangan bulat dan bilangan rasional. Pembelajaran di kelas VII A SMP Negeri 14 Yogyakarta dikemas menggunakan metode gamifikasi yang melibatkan 32 siswa dalam lima kelompok. Dalam permainan tersebut, setiap kelompok mengirimkan perwakilan untuk mengambil satu lembar soal dari sebuah kotak. Setiap lembar berisi satu soal mengenai bilangan bulat dan bilangan rasional. Soal yang diperoleh kemudian dikerjakan dan didiskusikan bersama anggota kelompok.
Setelah menyelesaikan soal, perwakilan kelompok menunjukkan jawaban kepada guru untuk diperiksa. Jika jawaban benar, kelompok mendapatkan kesempatan untuk mengambil soal berikutnya. Jika jawaban belum tepat, siswa diminta memperbaiki jawabannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke tantangan berikutnya.
Melalui mekanisme tersebut, siswa tidak hanya berlatih memahami konsep matematika, tetapi juga belajar bekerja sama dengan anggota kelompok yang memiliki karakteristik berbeda. Kesempatan untuk berdiskusi, mengerjakan soal, mengambil soal, dan berpartisipasi dalam permainan terbuka bagi seluruh anggota kelompok.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan nilai Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-5 tentang Kesetaraan Gender ke dalam pembelajaran. Kesetaraan gender dalam kegiatan ini tidak diwujudkan melalui materi khusus mengenai gender, melainkan melalui pembiasaan bahwa siswa laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berdiskusi, berpendapat, dan berkontribusi dalam kelompok.
“Menurut saya, kesetaraan gender bisa dimulai dari hal sederhana di kelas. Anak-anak perlu memahami bahwa mereka tidak perlu merasa canggung hanya karena berada dalam kelompok dengan teman yang berbeda gender. Mereka tetap bisa bekerja sama dan belajar bersama,” ujar Anantasya.
Upaya membangun ruang belajar yang setara juga berjalan beriringan dengan kondisi kelas yang beragam. Dari 32 siswa kelas VII A, terdapat tiga siswa berkebutuhan khusus yang turut mengikuti kegiatan pembelajaran bersama kelompoknya. Mereka berpartisipasi dalam pengerjaan soal dan aktivitas kelompok sesuai dengan kemampuan serta peran yang mereka jalankan selama kegiatan.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun sikap saling menghargai dan bekerja sama. Siswa belajar bahwa setiap anggota kelompok memiliki kesempatan untuk berkontribusi, terlepas dari apakah mereka laki-laki, perempuan, maupun memiliki karakteristik belajar yang berbeda.
Ibu Pangestika Purnama Ningsih, S.Pd., turut mendampingi kegiatan praktik kependidikan tersebut. Bagi Anantasya, pengalaman di kelas VII A menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan bagaimana seorang calon guru membangun kebiasaan dan lingkungan belajar yang positif.
Gamifikasi yang digunakan dalam penguatan materi bilangan bulat dan bilangan rasional akhirnya menjadi lebih dari sekadar permainan untuk mengerjakan soal. Di balik aktivitas mengambil soal, berdiskusi, memeriksa jawaban, dan memperbaiki kesalahan, terdapat proses pembiasaan bahwa matematika dapat menjadi ruang belajar bersama tanpa sekat gender. Melalui pengalaman tersebut, Anantasya berharap siswa semakin terbiasa melihat teman laki-laki dan perempuan sebagai rekan belajar yang dapat diajak berdiskusi dan bekerja sama. Nilai kesetaraan pun tidak berhenti sebagai konsep dalam SDGs, tetapi mulai diperkenalkan melalui interaksi sederhana yang terjadi setiap hari di ruang kelas. (Anastasya)
Belajar Matematika Tanpa Sekat Gender: Mahasiswa Pendidikan Matematika Dorong Kesetaraan di SMP Negeri 14 Yogyakarta
Berita Lain
Post date:
Post date: