Yogyakarta, 2026 — Mahasiswa KKN-M UNY Kelompok 32038 melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui “Sosialisasi DBD dan Pembuatan Spray Anti Nyamuk Alami dari Serai” di Dusun Keniten, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan ini bertempat di kediaman Ibu Lasmi, pada Sabtu (5/20/2026). Tidak hanya melalui sosialisasi DBD. Warga Dusun Keniten juga diajak untuk mengetahui pembuatan spray anti nyamuk alami dari bahan serai dapur (Cymbopogon citratus). Kegiatan ini menjadi salah satu langkah menciptakan produk repelen nyamuk yang ramah lingkungan, sehingga warga tidak hanya sekadar menanam serai di pekarangan rumah, tetapi juga mampu memanfaatkan potensi tanaman tersebut secara optimal.
Penyakit DBD tidak bisa disepelekan karena menjadi masalah di negara beriklim tropis. Di Indonesia, kasus DBD masih ditemukan di berbagai wilayah dan berpotensi meningkat pada kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk. Dengan demikian, diperlukan pengetahuan bagi setiap warga supaya waspada terhadap terjadinya gejala yang mengarah kepada penyakit DBD. Melalui kegiatan sosialisasi DBD ini, mahasiswa KKN-M UNY mengedukasi warga melalui pemaparan materi pengenalan nyamuk yang menjadi vektor virus dengue penyebab infeksi yaitu aedes aygepti dan aedes albopictus. Warga juga dihimbau melakukan kegiatan pencegahan yaitu Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas. Selain itu dapat disertai dengan cara lain seperti memasang kelambu untuk tidur, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, serta menggunakan obat anti nyamuk komersial.
Sebagai alternatif pengganti bahan kimia untuk pencegahan nyamuk DBD, warga Dusun Keniten diperkenalkan dengan solusi yang ramah lingkungan melalui serai. Serai mengandung minyak atsiri beraroma khas yang tidak disukai nyamuk yaitu sitronelal dan geraniol sehingga dinilai efektif untuk mengusir nyamuk. Rachma Chaurania Ramiza, mahasiswa Biologi UNY menjelaskan pentingnya inovasi ini bagi masyarakat. “Dengan pemanfaatan serai dapur sebagai anti nyamuk dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses repelen nyamuk, mudah dibuat sendiri dengan bahan yang tersedia di rumah sehingga dapat mengurangi jumlah nyamuk yang ada disekitar termasuk nyamuk DBD”, ujar Rachma.
Proses pembuatan serai menjadi spray anti nyamuk dapat dibilang sederhana. Serai di potong menjadi bagian kecil yang selanjutnya direbus selama 10-20 menit. Selanjutnya rebusan ditunggu hingga dingin kemudian disaring. Cairan yang telah disaring dicampur dengan alkohol 70% dengan perbandingan 3:1, hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelarutan minyak atsiri, mengikat aroma serai agar lebih tahan lama, mempercepat penguapan, dan memperpanjang masa simpan. Terakhir, campuran dimasukkan kedalam botol spray dan digunakan pada bagian tangan dan kaki. Serta lingkungan.
Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan tindakan promotif dan preventif terhadap penyakit menular berbasis vektor. Inovasi yang diusung Rachma Chaurania Ramiza, diharapkan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga mengenai pentingnya pencegahan DBD melalui penerapan 3M Plus. Selain itu, pelatihan pembuatan spray pengusir nyamuk berbahan serai diharapkan dapat memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat dalam memanfaatkan bahan lokal sebagai alternatif repelen sederhana.
Perkuat Pencegahan DBD, Mahasiswa KKN UNY Ajak Warga Dusun Keniten Memanfaatkan Serai
Berita Lain
Post date:
Post date: