Lendah, 25 September 2026 --- Selama kurun waktu 25 Juli hingga 25 September 2026, mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Laela Chairunnisa, menerapkan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan materi Biologi kelas X dengan isu-isu pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di SMAN 1 Lendah, Kulon Progo. Pendekatan ini diterapkan pada pembelajaran kelas X.1 mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang mencakup materi Virus, Bakteri, Jamur, hingga Ekosistem.
Laela menjelaskan, pemilihan isu-isu terkini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami relevansi Biologi dengan persoalan nyata yang sedang terjadi di Indonesia maupun dunia.
"Saya ingin siswa melihat bahwa materi yang mereka pelajari di kelas bukan sekadar teori dalam buku paket, tapi benar-benar terjadi di sekitar mereka. Dengan begitu, mereka belajar bukan hanya untuk nilai, tapi juga untuk memahami dunia tempat mereka tinggal," ujar Laela saat ditemui usai kegiatan pembelajaran di SMAN 1 Lendah.
Empat Materi, Empat Isu Berkelanjutan
Dalam rangkaian pembelajarannya, Laela mengaitkan empat materi utama dalam ATP dengan isu SDGs yang relevan:
1. Materi Virus dikaitkan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Siswa diajak mendiskusikan kasus Mpox (cacar monyet) di Indonesia yang menurut data Kementerian Kesehatan telah mencapai 92 kasus akumulatif hingga pertengahan 2026. Melalui isu ini, siswa mempelajari siklus litik dan lisogenik virus sekaligus memahami pentingnya tindakan preventif seperti edukasi dan deteksi dini.
2. Materi Bakteri dikaitkan dengan SDG 3 dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab). Siswa diajak mengkaji fenomena resistensi antibiotik di Indonesia, di mana menurut riset yang dipaparkan sejumlah akademisi, satu dari enam infeksi bakteri di Indonesia sudah menunjukkan resistensi terhadap antibiotik. Materi ini membantu siswa memahami proses konjugasi dan transformasi genetik pada bakteri sebagai dasar biologis penyebaran resistensi.
3. Materi Jamur dikaitkan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan). Siswa mempelajari bagaimana jamur patogen dapat menyebabkan gagal panen pada tanaman pangan dan hortikultura di Indonesia, sehingga mengancam ketahanan pangan petani.
4. Materi Ekosistem dan Aliran Energi dikaitkan dengan SDG 15 (Ekosistem Daratan), didukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Siswa diajak menganalisis kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali meluas di Indonesia sepanjang 2026, mencapai lebih dari 178 ribu hektare pada semester pertama saja. Kasus ini digunakan untuk menjelaskan konsep rantai makanan, piramida ekologi, dan daur karbon secara kontekstual.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang rangkaian pembelajaran. Pada sesi materi Ekosistem yang dikaitkan dengan isu karhutla, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk membuat infografis sederhana yang menggambarkan bagaimana kebakaran hutan memutus rantai makanan dan melepaskan karbon dari lahan gambut. Beberapa siswa mengaku baru menyadari bahwa berita kebakaran hutan yang sering mereka lihat di media sosial ternyata berkaitan langsung dengan materi ekosistem yang dipelajari di kelas.
Pada sesi materi Bakteri, diskusi kelompok tentang resistensi antibiotik memicu obrolan yang cukup hidup, terutama saat siswa membandingkan kebiasaan keluarga masing-masing dalam mengonsumsi antibiotik. Guru pamong Biologi di SMAN 1 Lendah turut mengapresiasi pendekatan ini, karena dinilai membuat siswa lebih aktif bertanya dan mengaitkan pelajaran dengan pengalaman sehari-hari, dibandingkan metode ceramah konvensional. Kepala sekolah turut menyambut baik pendekatan pembelajaran berbasis isu nyata dan SDGs ini, dan berharap metode semacam ini dapat terus dikembangkan oleh guru-guru di SMAN 1 Lendah, tidak hanya pada mata pelajaran Biologi.
Menurut Laela, pendekatan pembelajaran berbasis isu SDGs ini sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual dan berpikir kritis. Salah satu tantangan yang ia hadapi selama menerapkan pendekatan ini adalah memastikan isu yang diangkat cukup sederhana untuk dipahami siswa kelas X namun tetap akurat secara ilmiah, sehingga ia perlu menyiapkan bahan bacaan pendamping dari sumber yang dapat dipercaya untuk setiap sesi. Ke depan, Laela berencana mendokumentasikan seluruh perangkat pembelajaran berbasis isu SDGs ini agar dapat digunakan kembali oleh guru Biologi di SMAN 1 Lendah pada tahun ajaran berikutnya. (Laela)
Mahasiswa UNY Kaitkan Materi Biologi Kelas X dengan SDGs di SMAN 1 Lendah
Berita Lain
Post date:
Post date: