Suasana pembelajaran kimia kelas X di SMA Negeri 2 Ngaglik, Yogyakarta, tampak berbeda dari biasanya. Pembelajaran Kimia didampingi oleh Husniyah Mujahadah sebagai salah satu Mahasiswa Pendidikan Kimia UNY yang sedang melaksanakan Praktik Kependidikan (PK). Pembelajaran kimia hari ini, tidak hanya mencatat rumus dan mendengarkan penjelasan terkait istilah kimia saja, tetapi juga ikut berdiskusi sekaligus merancang poster bertema lingkungan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari secara nyata. Perancangan poster disusun dengan mengangkat tema lingkungan berbasis poin ke-12 SDGs tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta mendukung Program Adiwiyata Sekolah.
Sebelum merancang dan membuat poster secara berkelompok, siswa diberi Lembar kerja Peserta didik (LKPD) serta diberikan penjelasan terlebih dahulu mengenai materi metode ilmiah mulai dari mengamati fenomena, merumuskan masalah serta hipotesis, hingga menarik kesimpulan. Penjelasan dilakukan dengan memberi contoh yang dekat dengan keseharian siswa, seperti sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kerap tidak habis dan berakhir menjadi tumpukan sampah, apabila dibiarkan dalam jangka waktu lama tanpa pengelolaan yang bijak, tentu dapat menimbulkan bau menyengat dan dapat mengundang serangga sehingga menjadi sumber penyakit, seperti lalat dan nyamuk.
Selain itu, adanya tumpukan sampah sisa MBG yang tidak dikelola dengan baik dalam jangka waktu yang panjang, bisa menghasilkan gas metana (CH4) dari reaksi anaerobik. Gas Metana merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pemanasan global atau efek rumah kaca, karena kemampuannya menyerap dan memerangkap panas di atmosfer bumi. Dari dampak yang dapat mencemarkan lingkungan tersebut, beberapa siswa menyampaikan pendapat serta memberi solusi bahwa sisa makanan dari program MBG dijadikan pupuk kompos agar lebih bermanfaat. Selain itu, pembuatan pupuk kompos melibatkan reaksi aerobik yang tidak menghasilkan gas metana (CH4). Pengomposan yang benar dilakukan dalam kondisi aerobik dengan melibatkan sirkulasi udara atau oksigen (O2), sehingga produk utamanya adalah CO₂, air, dan panas yang lebih ramah lingkungan.
Di sinilah ilmu kimia mengambil peran penting, dengan ilmu yang mempelajari sifat, struktur, dan perubahan materi, kimia membantu menjelaskan mengapa suatu produk atau limbah bisa berdampak bagi lingkungan. Contohnya bagaimana sampah organik terurai dan melepas gas metana. Pemahaman ini menjadikan kimia bukan sekedar mata pelajaran secara teoritis saja, tetapi juga menjadi alat berpikir untuk mengkaji persoalan konsumsi dan produksi secara ilmiah, sesuai semangat SDGs poin ke-12.
Kegiatan ini merupakan bagian dari aplikasi atau tindak lanjut dari materi Pengantar Ilmu Kimia dan Metode Ilmiah, agar siswa dapat memahami peran ilmu kimia dalam isu global dan kehidupan nyata. Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan salah satu rencana aksi untuk menghadapi isu ataupun tantangan zaman dalam kehidupan saat ini. SDGs memiliki 17 poin, yang salah satu poinnya yaitu mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) dalam poin ke-12 yang menyoroti bagaimana manusia menggunakan sumber daya alam serta mengelola limbah yang dihasilkan dari aktivitas konsumsi dan produksi sehari-hari mulai dari efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan limbah pangan, hingga pengelolaan bahan kimia dan sampah yang ramah lingkungan.
Melalui pembelajaran kimia yang diintegrasikan dengan isu SDGs ini, diharapkan siswa dapat terus menerapkan kesadaran lingkungan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di rumah dan masyarakat. Poster yang dihasilkan siswa memuat gagasan konkret untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mematikan lampu agar menghemat penggunaan energi, membuang dan memilah sampah sesuai jenisnya agar menjadi lebih mudah saat ingin dikelola, serta memberikan solusi terkait pengelolaan sampah yang baik. Poster-poster tersebut dapat dimanfaatkan sekolah sebagai media edukasi lingkungan bagi warga sekolah lainnya untuk mendukung Program Adiwiyata. Kegiatan ini juga melatih siswa untuk berpikir kritis dan bekerja sama dalam kelompok, sekaligus menumbuhkan kepedulian mereka terhadap isu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab sesuai semangat SDGs poin ke-12. (Husniyah)
Green Chemistry: Peran Ilmu Kimia Dalam Mendukung Program Adiwiyata Sekolah
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date: