Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Erda Putri, menggelar pembelajaran inovatif di Kelas X Indraprasta SMA Negeri 2 Sleman, Selasa (18/8/2026). Didampingi oleh Guru Pamong Ibu Margareta Agnes Ayu Kristanti, S.Pd. dalam perencanaan metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang berlangsung selama 90 menit ini berfokus pada materi Alat Ukur dan diikuti oleh 36 peserta didik yang terbagi dalam 6 kelompok kecil dengan komposisi anggota campuran laki-laki dan perempuan, menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Inovasi ini menjadi wujud nyata kontribusi kegiatan PK dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yaitu SDGs ke-4 (Pendidikan Berkualitas), SDGs ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDGs ke-5 (Kesetaraan Gender), melalui pembelajaran yang aktif, berbasis penemuan, dan inklusif bagi seluruh peserta didik.
Kegiatan diawali dengan mereview kembali materi dasar alat ukur untuk mengaktifkan pengetahuan awal peserta didik. Selanjutnya, mahasiswa PK menjelaskan cara pembacaan skala pada jangka sorong dan mikrometer sekrup secara langsung menggunakan alat peraga, agar peserta didik memahami prinsip kerja dan tingkat ketelitian masing-masing alat ukur. Setelah pemaparan materi, peserta didik dibagi ke dalam 6 kelompok kecil untuk mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) bertajuk "Mengenal dan Mengukur Benda dengan Mistar, Jangka Sorong, dan Mikrometer Sekrup". Dalam kegiatan ini, setiap kelompok secara bergantian mempraktikkan pengukuran benda-benda nyata yang telah disediakan menggunakan ketiga alat ukur tersebut secara langsung: mistar untuk mengukur dimensi benda dengan skala terkecil sentimeter/milimeter, jangka sorong untuk mengukur diameter dalam, diameter luar, serta kedalaman benda dengan ketelitian 0,05 mm, dan mikrometer sekrup untuk mengukur ketebalan atau diameter benda berukuran kecil dengan ketelitian hingga 0,01 mm. Setiap kelompok mencatat hasil pengukuran, membandingkan tingkat ketelitian dari ketiga alat tersebut, kemudian berdiskusi untuk menyimpulkan konsep secara mandiri sesuai prinsip Discovery Learning, di mana peserta didik menemukan konsep melalui eksplorasi dan pengalaman pengukuran langsung, bukan sekadar menerima penjelasan dari guru.
Pelaksanaan kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta didik, di antaranya meningkatnya pemahaman konsep alat ukur secara lebih konkret melalui praktik langsung, terbangunnya keterampilan kerja sama dalam kelompok, serta tumbuhnya kemandirian berpikir dalam memecahkan permasalahan pengukuran. Bagi SMA Negeri 2 Sleman, kegiatan ini turut memperkaya variasi metode pembelajaran di kelas dan mendukung terciptanya proses belajar yang lebih partisipatif. Kontribusi kegiatan ini selaras dengan target SDGs ke-4 dalam mendorong akses pendidikan yang berkualitas serta peningkatan keterampilan bagi peserta didik sebagai bekal di masa depan; SDGs ke-9 melalui penguatan literasi dan keterampilan teknis pengukuran presisi (jangka sorong dan mikrometer sekrup) yang menjadi dasar penting dalam bidang industri, inovasi, dan rekayasa; serta SDGs ke-5 karena setiap kelompok belajar dibentuk dengan komposisi anggota laki-laki dan perempuan yang setara, sehingga seluruh peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berperan aktif dalam praktik pengukuran maupun diskusi kelompok tanpa dibedakan berdasarkan gender.
Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran Discovery Learning dapat terus dikembangkan pada materi-materi Fisika lainnya, sehingga pembelajaran di kelas semakin bermakna dan berpusat pada peserta didik. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan meningkatkan mutu pendidikan di SMA Negeri 2 Sleman, sejalan dengan semangat pencapaian SDGs di bidang pendidikan.