BANTUL -- Lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal dan memahami kehidupan secara langsung. Hal tersebut turut diwujudkan melalui pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta di SMA Negeri 1 Kasihan. Pada tahun 2026, kegiatan PK diikuti oleh mahasiswa dari beberapa program studi, yaitu Pendidikan Biologi, Pendidikan Kimia, Pendidikan Fisika, Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), serta Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Kehadiran mahasiswa dari berbagai bidang tersebut turut mendukung proses pembelajaran sekaligus berbagai kegiatan pengembangan lingkungan sekolah.
Selama melaksanakan PK di SMA Negeri 1 Kasihan, mahasiswa Pendidikan Biologi turut berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran Biologi melalui kegiatan berbasis lingkungan sekaligus mendukung keberlangsungan program Adiwiyata. Kegiatan tersebut menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang memungkinkan peserta didik tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga melihat secara langsung kehidupan organisme di sekitarnya. Melalui kegiatan Adiwiyata, peserta didik diajak untuk mengenal, merawat, dan memahami pentingnya menjaga kehidupan, terutama tumbuhan yang menjadi bagian dari lingkungan sekolah.
Dalam pelaksanaan kegiatan Adiwiyata, mahasiswa PK UNY 2026 berkolaborasi dengan guru dan peserta didik melakukan revitalisasi greenhouse sekolah melalui kegiatan penanaman benih, pemindahan tanaman, penggantian media tanam, dan perawatan tanaman. Kegiatan ini mendukung pemanfaatan dan pemeliharaan ekosistem daratan (SDG 15). Penggunaan pupuk organik cair (POC) untuk tanaman yang dibuat secara mandiri oleh warga sekolah menunjukkan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab (SDG 12). Sementara itu, pelabelan nama tanaman turut membantu peserta didik mengenali keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah dalam mendukung pendidikan berkualitas (SDG 4). Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan peserta didik dalam rangkaian kegiatan tersebut juga memperkuat kerja sama dalam pengelolaan lingkungan sekolah (SDG 17).
Menurut Ibu Eni Zakhanah, S.Si., M.Pd., selaku guru Biologi dan tim pelaksana Adiwiyata, kegiatan yang diberi nama Saka Kridha dapat menjadi sarana pembelajaran khususnya bagi peserta didik kelas X dalam memahami materi keanekaragaman hayati. Melalui kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah, peserta didik tidak hanya mempelajari keanekaragaman hayati melalui buku atau gambar, tetapi juga dapat mengamati berbagai tumbuhan secara langsung. Peserta didik dapat mengenali karakteristik tumbuhan, menemukan perbedaan antarjenis, serta memahami pengklasifikasian berdasarkan karakteristik yang diamati.
Pengalaman tersebut membuat materi keanekaragaman hayati menjadi lebih kontekstual karena objek yang dipelajari berada di lingkungan sekolah dan dapat diamati secara langsung. Di sisi lain, kegiatan mengenali dan merawat tumbuhan memberikan pengalaman kepada peserta didik bahwa keanekaragaman hayati bukan sekadar materi yang perlu dipahami untuk pembelajaran, tetapi merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga keberlangsungannya. Dengan demikian, kegiatan Adiwiyata dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan pengetahuan sekaligus kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
Keterkaitan antara lingkungan dan pembelajaran Biologi juga diterapkan pada peserta didik kelas XI yang pembelajarannya dibersamai oleh mahasiswa PK UNY, Aulia Rahma Rinda. Pada materi difusi dan osmosis, peserta didik tidak hanya mempelajari proses perpindahan zat melalui penjelasan di kelas, tetapi juga mengamati fenomenanya melalui praktik laboratorium dengan memanfaatkan bahan tumbuhan sederhana. Salah satu kegiatan dilakukan menggunakan daun bayam yang telah dicabut dan mengalami pelayuan. Daun tersebut kemudian ditempatkan dalam air murni dan larutan dengan kondisi hipertonik untuk diamati perubahan yang terjadi setelah beberapa menit.
Melalui praktik tersebut, peserta didik dapat mengamati secara langsung hubungan osmosis dengan perubahan tekanan turgor pada sel tumbuhan. Perubahan kondisi tersebut memberikan gambaran nyata bahwa keseimbangan air sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan kondisi tumbuhan. Praktik tersebut juga menjadi kesempatan bagi peserta didik untuk memahami proses plasmolisis dan deplasmolisis. Pembelajaran tersebut kemudian dikaitkan dengan fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selai itu, peserta didik diajak memahami bahwa kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kehidupan organisme.
Pemahaman tersebut menjadi pesan penting dalam pelaksanaan Adiwiyata. Menjaga lingkungan bukan hanya tentang menjaga lingkungan agar terlihat bersih dan hijau, tetapi juga menciptakan kondisi yang mendukung organisme untuk dapat tumbuh dan bertahan hidup. Tumbuhan yang dirawat di greenhouse, tumbuhan yang diamati dalam pembelajaran, hingga fenomena perubahan turgor pada praktikum difusi dan osmosis menunjukkan bahwa kehidupan sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Melalui pengalaman tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami konsep Biologi, tetapi juga semakin menyadari pentingnya menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pembelajaran Biologi dan Adiwiyata dapat berjalan beriringan dalam membangun lingkungan sekolah yang lebih berkelanjutan. Lingkungan sekolah dapat menjadi sumber belajar untuk mengenali keanekaragaman hayati, memahami proses kehidupan, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap keberlangsungan organisme. Kolaborasi mahasiswa, guru, dan peserta didik pun menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). (Aulia)
Belajar dari Lingkungan, Tumbuhkan Aksi lewat Adiwiyata SMAN 1 Kasihan
Berita Lain
Post date:
Post date: