Yogyakarta — Pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga merespons berbagai kebutuhan yang ditemukan secara langsung di sekolah. Hal tersebut dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui kegiatan pembelajaran matematika di kelas VIII A SMP Negeri 14 Yogyakarta.
Selama melaksanakan kegiatan mengajar, mahasiswa menemukan bahwa proses pembelajaran tidak selalu dapat berlangsung sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan. Sejumlah kegiatan sekolah yang dilaksanakan pada waktu pembelajaran menyebabkan beberapa jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mengalami pemotongan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan materi pembelajaran tetap dapat disampaikan dan dipahami oleh murid.
Menanggapi kondisi tersebut, mahasiswa memiliki gagasan untuk mengembangkan modul belajar mandiri yang dapat digunakan murid di luar jam pelajaran. Modul tersebut disusun sebagai salah satu upaya untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari kembali materi, memahami contoh, serta melakukan latihan secara mandiri ketika waktu pembelajaran tatap muka terbatas.
Program mengajar dan pengembangan modul tersebut kemudian menjadi bagian dari praktik pembelajaran yang memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui kegiatan pembelajaran sehari-hari, sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan dapat ditemukan, mulai dari upaya menyediakan pendidikan yang berkualitas, memberikan kesempatan belajar yang setara, mengembangkan keterampilan murid, hingga membangun kolaborasi antara mahasiswa dan pihak sekolah.
Pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas VIII A menjadi bentuk kontribusi utama terhadap SDG 4. Ketika sejumlah kegiatan sekolah menyebabkan waktu KBM terpotong, mahasiswa merancang modul belajar mandiri agar kesempatan belajar tidak berhenti pada waktu tatap muka. Modul tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari kembali materi dan mengerjakan latihan secara mandiri. Upaya ini sejalan dengan tujuan SDG 4 yang menekankan pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar sepanjang hayat.
Dalam proses pembelajaran, kesempatan untuk berpartisipasi diberikan kepada murid tanpa membedakan jenis kelamin. Murid laki-laki maupun perempuan diberikan ruang yang sama untuk bertanya, menyampaikan pendapat, mengerjakan soal, dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, prinsip kesetaraan dapat diterapkan melalui praktik pembelajaran sehari-hari.
Meskipun tidak berkaitan secara langsung dengan dunia kerja, pembelajaran matematika turut memberikan bekal keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan dan pendidikan pada masa mendatang. Kemampuan numerasi, pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan kemandirian belajar merupakan keterampilan yang dapat mendukung kesiapan murid menghadapi jenjang pendidikan dan kehidupan berikutnya. Keberagaman kemampuan murid menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Penyediaan modul belajar mandiri menjadi salah satu upaya menyediakan sumber belajar yang dapat digunakan oleh seluruh murid, terutama ketika waktu pembelajaran bersama mengalami keterbatasan. Pendekatan ini mendukung pemerataan kesempatan untuk memperoleh bahan pembelajaran, meskipun tingkat pemanfaatan dan kebutuhan pendampingan setiap murid tetap berbeda.
Pelaksanaan PK juga melibatkan kerja sama antara mahasiswa, sekolah, guru pamong, dan murid. Mahasiswa menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran sehingga program yang dibuat dapat diterapkan dalam konteks nyata sekolah.