YOGYAKARTA — Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogayakarta menerima kunjungan Universitas Borneo Tarakan (UBT) untuk menjalin kerjasama melalui diskusi strategis dan studi banding mengenai tata kelola kurikulum serta pengembangan sarana-prasarana pendidikan tinggi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (3/9/2026) di ruang Sidang Dekan. Kegiatan ini menyoroti potret nyata pendidikan di wilayah perbatasan Indonesia, tantangan penurunan jumlah mahasiswa baru, hingga langkah adaptasi kurikulum, dan pendidikan inklusif. Diskusi interaktif ini menghadirkan perwakilan akademisi dari UBT dan perwakilan dari program studi matematika FMIPA UNY. Fokus utama pembahasan pada bagaimana perguruan tinggi di daerah perbatasan dapat memperkuat daya saing prodi di tengah dinamika perubahan minat mahasiswa dan pesatnya perkembangan teknologi digital.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan UBT mengungkapkan tren penerimaan mahasiswa baru yang mengalami penurunan pasca-pandemi. Jika pada dekade lalu prodi mampu menampung hingga 80 mahasiswa, pada tahun akademik 2026 kuota yang terisi hanya mencapai 37 mahasiswa atau satu kelas. Fenomena ini dipengaruhi oleh tingginya preferensi calon mahasiswa untuk merantau ke kota-kota besar seperti Yogyakarta demi mencari pengalaman dan peluang kerja yang lebih luas.
Selain faktor migrasi studi, perbedaan kondisi sarana dan prasarana laboratorium komputer serta fasilitas perpustakaan di daerah perbatasan menjadi perhatian serius. Mahasiswa di daerah perbatasan sering kali harus berbagi fasilitas laboratorium komputer atau membawa perangkat pribadi demi menunjang mata kuliah berbasis statistik dan komputasi. Tantangan di tingkat pendidikan tinggi ini mencerminkan kondisi nyata di tingkat sekolah dasar dan menengah di wilayah perbatasan di mana literasi numerasi masih membutuhkan perhatian ekstra serta pemenuhan kualifikasi guru matematika yang proporsional.
Menjawab tantangan masa depan, kedua pihak membedah strategi pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Salah satu poin krusial adalah penguatan mata kuliah berbasis teknologi, seperti media pembelajaran berbasis AI dan integrasi Machine Learning dalam kajian matematika.
Selain penguatan teknologi digital, kurikulum pendidikan matematika saat ini juga mulai mengintegrasikan isu-isu strategis nasional dan global, di antaranya pendidikan inklusif yang membekali calon pendidik agar mampu mengajar siswa dengan beragam kebutuhan belajar, pendidikan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang mengintegrasikan wawasan lingkungan dan keberlanjutan dalam pembelajaran dan mata kuliah keunggulan lokal untuk penguatan keunggulan berbasis wilayah, seperti pemanfaatan Sumber Daya Tropis dan kawasan pesisir/kelautan di daerah perbatasan.
Untuk memperkuat kualitas lulusan dan pengabdian masyarakat (PKM), kolaborasi bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP dan SMA serta pemerintah daerah setempat terus ditingkatkan. Sinergi ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah pusat dan perbatasan. Melalui kegiatan studi banding ini, perguruan tinggi berkomitmen untuk mencetak tenaga pendidik yang adaptif terhadap teknologi digital, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta mampu menjadi pendorong kemajuan pendidikan di seluruh pelosok Nusantara.