Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) dilaksanakan oleh Latifah Aulia Sari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta, pada Jumat, 31/7/2026 di kelas X A SMA Negeri 1 Cangkringan. Kegiatan ini merupakan pembelajaran Biologi dengan materi Keanekaragaman Hayati yang dilaksanakan menggunakan model Project Based Learning (PjBL) dengan sasaran peserta didik kelas X A. Kegiatan ini berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Ekosistem Daratan, khususnya yang menekankan tindakan cepat dan signifikan untuk mengurangi degradasi habitat alami, menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati, serta melindungi dan mencegah lenyapnya spesies yang terancam punah.
Pembelajaran ini bertujuan membantu peserta didik memahami konsep keanekaragaman hayati serta faktor-faktor penyebab kelangkaan satwa melalui data ilmiah yang aktual. Proses pelaksanaan diawali dengan penjelasan konsep dasar keanekaragaman hayati dan memperkenalkan peserta didik pada kategori status konservasi dalam Daftar Merah IUCN (IUCN Red List), yaitu punah, punah di alam liar, kritis, genting, rentan, hampir terancam, dan risiko rendah. Selanjutnya, setiap peserta didik secara individu memilih satu di antara 25 jenis satwa terancam punah prioritas Indonesia. Kemudian peserta didik mencari status konservasinya melalui Google Scholar. Peserta didik juga mengidentifikasi faktor penyebab kelangkaan, di antaranya hilangnya habitat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), perburuan liar, serta perubahan iklim. Dimana setiap musim kemarau sering terjadi kebakaran hutan seperti di Kalimantan. Badan Nasional Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional selama Januari–Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Lima provinsi dengan luas karhutla terbesar berturut-turut adalah Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare).
Latifah memaparkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dengan kondisi cuaca yang lebih kering akibat pengaruh El Niño pada periode 2026–2027. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.Hasil kajian tersebut dikemas peserta didik ke dalam bentuk infografis yang informatif dengan pendampingan dari mahasiswa pelaksana.
“Kegiatan ini memberikan dampak positif berupa peningkatan pemahaman dan kesadaran peserta didik terhadap ancaman kepunahan satwa serta pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, termasuk kesadaran bahwa ancaman tersebut juga dapat terjadi di wilayah sekitar tempat tinggal mereka. Peserta didik juga terlatih untuk berpikir kritis, mencari dan menganalisis data ilmiah secara mandiri, serta menuangkan gagasan ke dalam media visual yang komunikatif. Kontribusi kegiatan ini terhadap SDGs tercermin dari peningkatan literasi konservasi peserta didik terhadap status dan ancaman spesies prioritas nasional, sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya percepatan upaya perlindungan habitat alami”, katanya.
Latifah menambahkan, melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik semakin memahami pentingnya menjaga kelestarian satwa liar serta mampu menerapkan pengetahuan Biologi dalam menyikapi berbagai isu lingkungan di sekitarnya. Saya juga berharap pembelajaran berbasis Project Based Learning (PjBL) dapat melatih hard skill dan keterampilan peserta didik, serta dapat diterapkan pada materi Biologi lainnya sebagai model pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan isu lingkungan dan tujuan pembangunan berkelanjutan. (ifah)
Kenali Status Konservasi Keanekaragaman Hayati Lewat IUCN Red List, Mahasiswa UNY Ajak Siswa SMA N 1 Cangkringan Berkreasi dengan Infografis
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date:
Post date: