Sampah merupakan permasalahan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah. Berbagai aktivitas seperti konsumsi makanan dan minuman serta penggunaan alat tulis dapat menghasilkan sampah. Oleh karena itu, menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga perlu dilakukan dengan mengurangi sampah dan bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
Di SMP Negeri 1 Seyegan, upaya tersebut dilakukan melalui berbagai pembiasaan untuk mengurangi dan mengelola sampah. Kebiasaan ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap aktivitas konsumsi memiliki dampak terhadap lingkungan.Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kertas minyak sebagai alternatif pembungkus makanan digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik. Langkah ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai sebelum sampah tersebut dihasilkan. Pilihan terhadap bahan yang digunakan sehari-hari menjadi tindakan sederhana yang dapat membantu mengurangi jumlah sampah. Kebiasaan tersebut juga mengajarkan siswa untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dari setiap pilihan konsumsi.
Hal yang menarik dari lingkungan SMP Negeri 1 Seyegan adalah tidak tersedianya tempat sampah di setiap sudut sekolah. Kondisi tersebut menjadi bagian dari pembiasaan siswa untuk membawa dan bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.Melalui kebiasaan ini, siswa belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tugas petugas kebersihan. Setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitasnya. Kebiasaan tersebut menjadi bentuk pendidikan lingkungan yang diterapkan melalui pengalaman sehari-hari. Selain mengurangi sampah, sekolah juga melakukan pengelolaan terhadap sampah organik, seperti daun dan bagian tanaman yang gugur. Sampah tersebut dikumpulkan dan diolah melalui proses pengomposan. Pengomposan menunjukkan bahwa sampah dapat dimanfaatkan kembali dan tidak selalu berakhir sebagai limbah. Kompos yang dihasilkan dapat digunakan untuk mendukung pemeliharaan tanaman di lingkungan sekolah. Praktik ini juga mengenalkan proses pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah kepada siswa.
Berbagai kebiasaan tersebut memiliki keterkaitan dengan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Penerapannya dapat dimulai melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik, memilih bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan, membawa kembali sampah yang dihasilkan, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.
Kebiasaan tersebut membuat siswa tidak hanya memahami isu lingkungan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga mengalaminya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Penerapan pengurangan dan pengelolaan sampah di SMP Negeri 1 Seyegan menunjukkan bahwa budaya konsumsi yang bertanggung jawab dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana. Ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan mengurangi sampah, bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, dan memanfaatkan kembali sampah organik dapat membentuk kepedulian terhadap lingkungan. Pada akhirnya, SDGs 12 tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah setelah dihasilkan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang bertanggung jawab atas pilihan konsumsinya sejak awal. Lingkungan sekolah menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang lebih berkelanjutan. (Andini)