Pembelajaran kimia di sekolah menengah sering kali dihadapkan pada tantangan pemahaman materi yang bersifat abstrak. Akibatnya, siswa cenderung hanya berperan sebagai penerima informasi pasif, sehingga pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pembentukan sikap ilmiah selama proses pembelajaran belum dapat berjalan secara optimal.
Menjawab tantangan tersebut, Fajar Naqsyahbandi, mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta, berhasil mengembangkan sebuah inovasi berupa model pembelajaran Context Oriented Metacognitive Engineering Design atau disingkat COMED.
Dalam sidang promosi Doktor yang digelar pada Rabu, 29/7/26, Fajar berhasil mempertahakan penelitiannya dihadapan para penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si. (Ketua/Penguji), Dr. Retno Arianingrum, M.Si (Sekretaris/Penguji), Prof. Dr. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si.(Penguji Eksternal), Prof. Dr. Sri Atun, M.Si. (Penguji Internal), Prof. Dr. Eli Rohaeti, M.Si. (Promotor/Penguji), Prof. A.K. Prodjosantoso, Ph.D. (Kopromotor /Penguji).
Model pembelajaran COMED dirancang secara khusus untuk mengintegrasikan tiga kerangka utama, yaitu Context-Based Learning untuk menghubungkan konsep kimia dengan fenomena kehidupan nyata, Metacognitive Strategies untuk melatih siswa memantau dan mengendalikan proses berpikirnya, serta Engineering Design Process yang memberikan kerangka kerja sistematis dalam merancang solusi atas suatu permasalahan.
Dalam skenario kelas, model ini mengusung lima alur pembelajaran utama yang runtut. Pembelajaran diawali dengan tahap context recognition untuk mengenalkan masalah kontekstual harian. Selanjutnya, siswa masuk ke tahap explore untuk mengeksplorasi informasi ilmiah dari berbagai sumber, disusul tahap plan guna menyusun alur penyelesaian masalah. Proses berlanjut ke tahap execute untuk merealisasikan dan menguji rancangan solusi, hingga diakhiri dengan tahap conclusion yang berisi kegiatan presentasi hasil serta evaluasi reflektif.
Pengembangan model COMED menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan dengan kerangka ADDIE. Kelayakan produk divalidasi oleh tim ahli melalui teknik Delphi, sementara uji kepraktisan dan keefektifan dilaksanakan di beberapa sekolah menengah atas di Yogyakarta pada materi larutan penyangga Fase F Kurikulum Merdeka.
Hasil riset membuktikan bahwa model COMED tergolong sangat layak dan praktis diterapkan dengan tingkat keterlaksanaan mencapai sembilan puluh enam persen. Berdasarkan analisis statistik multivariat, model COMED terbukti secara signifikan lebih efektif dibandingkan model Discovery Learning dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis sekaligus sikap ilmiah siswa. Selain dampak akademis, penerapan model ini turut menumbuhkan keterampilan kolaborasi, kemandirian belajar, komunikasi, serta pemecahan masalah secara kreatif di kelas. (witono)