Bisa apa sebenarnya sebuah botol plastik bekas, segenggam es batu, dan sesendok soda kue jika dipadukan dalam satu percobaan sains? Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh siswa kelas XI AE 1 SMA Negeri 2 Yogyakarta melalui praktikum Uji Ingenhousz yang digelar dengan cara tidak biasa. Alih-alih menggunakan gelas beker, corong kaca, dan tabung reaksi seperti lazimnya di laboratorium, para siswa diajak membuktikan proses fotosintesis hanya bermodalkan botol bekas dan bahan sederhana di sekitar mereka.
Kegiatan yang berlangsung Senin, 24 Agustus 2026, pukul 11.45–13.00 WIB ini diampu oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK), Lutfi Nurlaili, dengan bimbingan guru pamong Nanik Yuniastuti S.Pd.Si, M.Pd., dan diikuti 36 siswa yang terbagi ke dalam 9 kelompok, masing-masing beranggotakan dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Praktikum ini dilaksanakan dengan metode outdoor learning agar siswa dapat mengamati langsung pengaruh kondisi lingkungan terhadap fotosintesis, sekaligus berkaitan dengan pencapaian SDGs Pendidikan Berkualitas dan Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Lutfi Nurlaili menjelaskan, kegiatan ini bertujuan membuktikan bahwa fotosintesis menghasilkan oksigen melalui pengamatan gelembung udara dari tanaman air Hydrilla verticillata pada berbagai kondisi lingkungan. Penggunaan botol plastik bekas sebagai pengganti alat laboratorium dipilih untuk mengenalkan konsep daur ulang dan efisiensi sumber daya tanpa mengurangi keakuratan hasil pengamatan. Setelah penjelasan singkat tentang konsep fotosintesis dan prosedur kerja, siswa melaksanakan praktikum secara berkelompok di area terbuka sekolah. Setiap kelompok membagi tugas mengamati tiga botol dengan perlakuan berbeda: botol pertama diletakkan di tempat gelap dengan air bersuhu rendah (es), botol kedua diisi air suhu normal dan terkena sinar matahari langsung, serta botol ketiga diisi air suhu normal ditambah soda kue sebagai sumber natrium bikarbonat dan diletakkan di tempat terang. Melalui ketiga perlakuan tersebut, siswa membandingkan pengaruh intensitas cahaya, suhu, dan ketersediaan karbon dioksida terhadap laju fotosintesis melalui jumlah gelembung oksigen yang terbentuk. Meski tidak mendampingi secara langsung, guru pamong tetap memantau jalannya kegiatan dengan menanyakan perkembangan pelaksanaan praktikum melalui pesan WhatsApp kepada mahasiswa PK.
Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta didik maupun sekolah. Melalui outdoor learning dan perbandingan tiga kondisi perlakuan, siswa memperoleh pemahaman konseptual yang lebih nyata mengenai pengaruh cahaya, suhu, dan karbon dioksida terhadap laju fotosintesis. Penggunaan botol bekas sebagai alat praktikum juga menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya pengelolaan sampah dan pemanfaatan barang bekas secara bijak, sejalan dengan semangat SDGs. Bagi sekolah, kegiatan ini memperkaya variasi metode pembelajaran sains yang inovatif, kontekstual, ekonomis, dan mudah direplikasi pada praktikum berikutnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan inovasi pembelajaran berbasis pemanfaatan barang bekas dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, baik oleh guru maupun mahasiswa PK di masa mendatang. Kolaborasi antara mahasiswa PK dan pihak sekolah diharapkan mampu menghadirkan lebih banyak metode pembelajaran kreatif yang efektif secara akademik sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.
Fotosintesis Tanpa Laboratorium: Botol Plastik Naik Kelas Jadi Alat Lab di SMA Negeri 2 Yogyakarta
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date: