Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema integrasi pengelolaan sampah organik berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) di Kampung Emas UNY Gunungkidul. Kegiatan dilaksanakan di Padukuhan Kepuh dan Kenteng, Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dengan melibatkan 40 warga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Padukuhan Kepuh dan Kenteng.
Kegiatan yang diketuai oleh Dr. Mualimin, M.Pd. tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah organik melalui pemanfaatan maggot BSF, sekaligus mendorong penerapan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang lebih produktif dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi bagian dari kontribusi FMIPA UNY dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12: Responsible Consumption and Production atau Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, terutama melalui upaya pengurangan timbulan sampah organik dan pemanfaatannya kembali sebagai sumber daya. Secara lebih khusus, kegiatan ini sejalan dengan Target 12.5 SDGs, yaitu upaya mengurangi timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali. Dalam program ini, sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diarahkan untuk dimanfaatkan dalam proses budidaya maggot BSF.

Tim PkM FMIPA UNY bersama peserta kegiatan integrasi pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF di Kampung Emas UNY Gunungkidul.
Sampah organik rumah tangga memiliki potensi untuk dikelola dan dimanfaatkan kembali sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah. Salah satu alternatif pemanfaatannya adalah melalui proses biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly atau yang dikenal sebagai maggot BSF. Dalam sistem ini, bahan organik dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi maggot sehingga sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat dialihkan menjadi sumber daya yang lebih bermanfaat.
Budidaya maggot BSF juga berpotensi menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut, antara lain sebagai sumber pakan alternatif untuk ikan maupun ternak. Bekas maggot (Kasgot) juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Oleh karena itu, pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi sampah, tetapi juga memberikan peluang pemanfaatan hasil budidaya bagi masyarakat.
Untuk memberikan pemahaman dan keterampilan secara bertahap, kegiatan PkM dilaksanakan dalam dua tahap yang mengintegrasikan edukasi, diskusi, praktik langsung, evaluasi, serta dukungan sarana budidaya.
Tahap Pertama: Edukasi Pengelolaan Sampah Organik Berbasis Maggot BSF
Kegiatan tahap pertama dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026 dengan fokus pada pemberian pemahaman mengenai pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF. Materi disampaikan oleh Tri Wijayanti, Ketua Pusat Daur Ulang (PDU) Kalurahan Bumijo, Jetis, Kota Yogyakarta yang juga merupakan kampung emas UNY.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan pelaksanaan pretest untuk memperoleh gambaran awal mengenai pemahaman peserta terhadap materi yang akan disampaikan. Selanjutnya, peserta memperoleh materi mengenai pengelolaan sampah organik, pengenalan maggot BSF, serta potensinya sebagai salah satu alternatif dalam pengolahan sampah organik.

Tri Wijayanti, Ketua PDU Kampung Emas Bumijo, menyampaikan materi pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF kepada peserta kegiatan PkM.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Pemilahan sampah organik menjadi salah satu tahapan penting agar bahan organik yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung dibuang. Sampah organik selanjutnya dapat diarahkan sebagai sumber pakan dalam budidaya maggot BSF sehingga terbentuk sistem pengelolaan yang lebih terpadu.
Sesi penyampaian materi dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Peserta memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan serta mendiskusikan berbagai kemungkinan penerapan pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot BSF di lingkungan masing-masing. Keterlibatan peserta selama sesi tersebut menjadi bagian penting untuk menghubungkan materi yang diberikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di Padukuhan Kepuh dan Kenteng.

Peserta dari KWT Padukuhan Kepuh dan Kenteng mengikuti sesi pelatihan dan diskusi mengenai pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF.
Tahap Kedua: Praktik Budidaya Maggot BSF
Sebagai kelanjutan dari kegiatan tahap pertama, tahap kedua dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Jika kegiatan sebelumnya lebih menekankan pada penguatan pemahaman, kegiatan tahap kedua diarahkan pada praktik budidaya maggot BSF agar peserta memperoleh pengalaman secara langsung.
Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Dekan FMIPA UNY, Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si. Kehadiran pimpinan fakultas sekaligus menjadi bentuk dukungan FMIPA UNY terhadap kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mendorong penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab permasalahan lingkungan di masyarakat.

Dekan FMIPA UNY, Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si., memberikan sambutan pada kegiatan PkM pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF di Kampung Emas UNY Gunungkidul.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik budidaya maggot BSF yang dipandu oleh Dr. Mualimin, M.Pd. Dalam kegiatan praktik, peserta diperkenalkan secara langsung pada tahapan budidaya maggot serta pemanfaatan bahan organik sebagai bagian dari proses pemeliharaan.
Pelaksanaan praktik memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghubungkan pengetahuan yang telah diperoleh pada kegiatan sebelumnya dengan penerapannya secara langsung. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara teoritis, tetapi juga mendapatkan gambaran yang lebih konkret mengenai proses pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot BSF.
Peserta juga terlibat dalam sesi diskusi dan tanya jawab selama kegiatan praktik. Berbagai pertanyaan yang muncul menjadi ruang untuk mendiskusikan penerapan budidaya maggot sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.


Dr. Mualimin, M.Pd. memandu praktik budidaya maggot BSF sebagai bagian dari penerapan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
Pemahaman Peserta Meningkat Setelah Mengikuti Kegiatan
Evaluasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Evaluasi dilakukan melalui pretest dan posttest dengan nilai maksimal 100. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta. Rata-rata nilai pretest sebesar 76,75 meningkat menjadi 94,25 pada posttest, atau mengalami kenaikan rata-rata sebesar 17,50 poin. Hasil tersebut menunjukkan bahwa setelah mengikuti rangkaian penyampaian materi dan praktik, peserta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pengelolaan sampah organik dan budidaya maggot BSF.

Peserta mengerjakan instrumen evaluasi sebagai bagian dari pengukuran pemahaman sebelum dan setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Selain melalui tes, Tim PkM juga menghimpun respons peserta terhadap program melalui angket menggunakan skala maksimal 4. Hasil angket menunjukkan bahwa peserta memberikan respons positif terhadap seluruh aspek yang dievaluasi. Aspek pelaksanaan pelatihan memperoleh rata-rata skor 3,40, sedangkan aspek penyampaian materi oleh pemateri memperoleh skor 3,34. Pada aspek pemahaman dan keterampilan peserta, diperoleh rata-rata skor 3,21 dari 4. Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta memberikan penilaian positif terhadap pemahaman dan keterampilan yang mereka peroleh selama mengikuti kegiatan. Sementara itu, aspek manfaat dan keberlanjutan program memperoleh rata-rata skor 3,39 dari 4.
Hasil angket tersebut melengkapi hasil pretest dan posttest. Pretest dan posttest memberikan gambaran mengenai perubahan pemahaman peserta berdasarkan hasil tes, sedangkan angket menggambarkan respons dan persepsi peserta terhadap pelaksanaan kegiatan, penyampaian materi, pemahaman dan keterampilan yang diperoleh, serta manfaat dan keberlanjutan program.
Dukungan Sarana dan Keberlanjutan Program
Program pengabdian tidak berhenti pada penyampaian materi dan praktik. Sebagai bentuk dukungan agar hasil pelatihan dapat diterapkan secara mandiri, Tim PkM FMIPA UNY juga menyiapkan dan menyerahkan bibit maggot BSF, kandang atau biopond, serta peralatan pendukung budidaya kepada kelompok masyarakat.
Sarana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh KWT Padukuhan Kepuh dan Kenteng sebagai modal awal untuk menerapkan budidaya maggot BSF sekaligus mengembangkan pengelolaan sampah organik di lingkungan masing-masing.

Bibit maggot BSF, kandang/biopond, dan peralatan pendukung budidaya yang disiapkan untuk mendukung penerapan hasil pelatihan oleh peserta.
Tim PkM juga merencanakan pendampingan lanjutan untuk mendukung masyarakat dalam menerapkan hasil pelatihan, membantu mengidentifikasi berbagai kendala yang mungkin muncul selama proses budidaya, serta mendorong keberlanjutan pengelolaan sampah organik berbasis maggot BSF.
Melalui integrasi antara edukasi, praktik langsung, evaluasi, penyediaan sarana, dan pendampingan, program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan sesaat. Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh diharapkan dapat menjadi modal awal bagi masyarakat untuk mengembangkan pengelolaan sampah organik secara lebih mandiri dan berkelanjutan.