Yogyakarta, 1 September 2026 — Pembelajaran Kimia materi Termokimia dilaksanakan di SMA Negeri 2 Yogyakarta melalui kegiatan investigasi reaksi eksoterm dan endoterm. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta yang dilaksanakan oleh Dyah Ayu Nur Aini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA UNY, bersama peserta didik. Pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dengan mengaitkan konsep Termokimia dengan fenomena dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain memperkuat pemahaman konsep Kimia, kegiatan ini mengintegrasikan Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-Being dan SDGs 12: Responsible Consumption and Production sebagai bagian dari upaya mengenalkan keterkaitan pembelajaran Kimia dengan kehidupan sehat dan berkelanjutan.
Kegiatan pembelajaran menggunakan model Discovery Learning yang mendorong peserta didik menemukan konsep berdasarkan hasil pengamatan dan penyelidikan. Pembelajaran diawali dengan demonstrasi Elephant Toothpaste sebagai stimulus. Peserta didik mengamati fenomena yang terjadi dan diarahkan untuk memikirkan hubungan antara reaksi kimia dengan perubahan suhu. Selanjutnya, peserta didik dibagi ke dalam enam kelompok dan merumuskan permasalahan mengenai perbedaan perubahan suhu pada reaksi kimia, cara menentukan reaksi eksoterm dan endoterm, serta hubungan perubahan suhu dengan perpindahan kalor. Pada tahap investigasi, peserta didik melakukan dua percobaan sederhana, yaitu akuades dengan semen instan dan cuka dengan soda kue. Peserta didik mengukur suhu awal dan suhu akhir menggunakan termometer, mencatat hasil pengamatan, kemudian menghitung perubahan suhu. Hasil tersebut digunakan untuk mengidentifikasi reaksi yang mengalami kenaikan maupun penurunan suhu sebelum peserta didik mencocokkannya dengan konsep ilmiah mengenai reaksi eksoterm dan endoterm.
Dengan adanya kegiatan investigasi, peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa perubahan suhu dapat menjadi petunjuk adanya perpindahan kalor dalam suatu reaksi. Peserta didik kemudian diajak menghubungkan konsep yang telah ditemukan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari melalui hot pack dan cold pack. Hot pack dikaitkan dengan proses yang menghasilkan efek hangat, sedangkan cold pack dikaitkan dengan proses yang menghasilkan efek dingin. Pengaitan tersebut menjadi bagian dari integrasi SDGs 3, karena peserta didik memahami bahwa prinsip Kimia dapat ditemukan pada produk yang digunakan untuk mendukung kebutuhan kesehatan. Sementara itu, integrasi SDGs 12 dilakukan dengan mengajak peserta didik memahami pentingnya menggunakan bahan dan produk secara tepat, sesuai kebutuhan dasn fungsi, serta memperhatikan penggunaan bahan secara bertanggung jawab. Selama kegiatan, peserta didik juga dilatih untuk bekerja sama, berpikir kritis, mengolah data hasil pengamatan, serta menyampaikan hasil penyelidikan berdasarkan bukti.
Melalui pembelajaran Termokimia yang dikemas secara investigatif dan kontekstual, peserta didik diharapkan tidak hanya mampu membedakan reaksi eksoterm dan endoterm, tetapi juga mampu melihat keterkaitan konsep Kimia dengan persoalan dan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi SDGs diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pembelajaran Kimia dapat berkontribusi dalam membangun perilaku yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan serta konsumsi yang bertanggung jawab. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk terus mengaitkan konsep-konsep Kimia dengan lingkungan dan kehidupan di sekitarnya.
Eksplorasi Termokimia Berbasis SDGs: Dari Reaksi Eksoterm dan Endoterm menuju Kehidupan Sehat dan Berkelanjutan
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date: