Sleman, D.I. Yogyakarta – Program pembuatan dan perawatan lubang resapan biopori berbahan sampah organik kembali digelar di pinggir lapangan SMA Negeri 1 Cangkringan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap dua pekan sekali pada hari Jumat ini melibatkan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta yang mendampingi para siswa-siswi sekolah setempat. Selain menjadi upaya sederhana mengelola sampah organik di lingkungan sekolah, aktivitas ini sekaligus menjadi bentuk konkret kontribusi dunia pendidikan terhadap capaian empat target Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program lingkungan yang telah berjalan di SMA Negeri 1 Cangkringan, dengan tujuan menumbuhkan kebiasaan siswa dalam mengelola sampah organik secara mandiri sekaligus memperkuat daya resap tanah di area sekolah. Proses pembuatan biopori diawali dengan pengeboran tanah menggunakan alat bor tanah manual (auger) hingga kedalaman tertentu, dilanjutkan dengan pengumpulan serasah daun dan sampah organik yang berserakan di lingkungan sekolah. Sampah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam lubang secara bertahap sebagai bahan pengisi sekaligus calon kompos alami. Mengenakan seragam olahraga, para siswa tampak antusias bergotong royong bersama guru pendamping, sementara mahasiswa PK turut mendampingi jalannya kegiatan sekaligus mendokumentasikan seluruh rangkaian prosesnya.
Dari sisi dampak, keberadaan lubang resapan biopori dipercaya mampu mempercepat penyerapan air hujan ke dalam tanah sehingga risiko genangan di area paving dan taman sekolah dapat ditekan, sekaligus mengubah sampah organik menjadi kompos alami yang menyuburkan tanah. Ayu Humaira, mahasiswa PK yang turut memaparkan kajian terkait manfaat biopori dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa efektivitas teknologi tersebut telah dibuktikan secara empiris. Ia merujuk pada penelitian Lestari dkk. (2025) yang dipublikasikan dalam Jurnal Biology Science & Education, yang menemukan bahwa penerapan lubang resapan biopori mampu meningkatkan persentase penanganan limpasan air hujan dari semula 27 persen menjadi 43 persen di lokasi penelitian. "Data ini menunjukkan bahwa biopori bukan sekadar simbol kepedulian lingkungan, tetapi solusi teknis yang benar-benar terukur dampaknya bagi konservasi air tanah dan mitigasi genangan," ujarnya. Praktik semacam ini juga sejalan dengan arah kebijakan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang terus didorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui berbagai program edukasi lingkungan di satuan pendidikan.
Melalui kegiatan yang konsisten dijalankan setiap dua pekan ini, pihak sekolah berharap kesadaran ekologis warga sekolah dapat terus tumbuh dan menjadi kebiasaan jangka panjang, bukan sekadar seremoni. Ayu Humaira berharap program biopori ini dapat terus berlanjut dan dirawat secara berkesinambungan oleh siswa dan guru, bahkan setelah masa Praktik Kependidikan mahasiswa berakhir. "Harapannya, biopori ini tidak berhenti di sini. Kalau dirawat terus, dampaknya untuk penyerapan air dan pengurangan sampah organik bisa dirasakan bertahun-tahun ke depan," tuturnya. Konsistensi semacam ini diharapkan dapat menempatkan SMA Negeri 1 Cangkringan sebagai motor penggerak sekolah berwawasan lingkungan (Adiwiyata) di wilayah Sleman, Yogyakarta. (Ayu)
Biopori Sampah Organik, Cara SMA Negeri 1 Cangkringan Rawat Bumi dan Kejar Target SDGs
Berita Lain
Post date: