Pembelajaran Biologi berbasis Socio-Scientific Issues (SSI) dilaksanakan oleh Kukuh Seftiana Salsabila, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), bersama peserta didik kelas X-B SMA Negeri 1 Sentolo pada 19 Agustus 2026. Kegiatan dilaksanakan dengan mengangkat isu lingkungan di Kulon Progo sebagai konteks pembelajaran materi penyebab hilang serta ancaman terhadap kelestarian flora dan fauna. Isu yang dibahas meliputi permasalahan penambangan pasir besi di kawasan pesisir Pantai Glagah yang dikaitkan dengan gangguan terhadap gangguan terhadap habitat penyu lekang serta perubahan penggunaan lahan di kawasan Perbukitan Menoreh yang berpotensi menyebabkan kerusakan vegetasi dan hilangnya habitat berbagai organisme. Kegiatan ini mendukung SDGs tujuan ke-4, ke-8, ke-14, dan ke-15 melalui pembelajaran kontekstual, pembahasan perlindungan ekosistem pesisir, serta pelestarian keanekaragaman hayati. Pelaksanaan pembelajaran diketahui dan dibimbing oleh Guru Pamong Biologi SMA Negeri 1 Sentolo.
Kegiatan bertujuan membantu peserta didik menghubungkan konsep Biologi dengan permasalahan lingkungan nyata serta menganalisis suatu isu dari berbagai sudut pandang. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok dengan perspektif sebagai pelaku usaha/pengembang, pemerintah daerah, masyarakat/petani lokal, peneliti/ilmuan, pegiat lingkungan hidup, dan warga sekitar/pemuda Kulon Progo. Setiap kelompok mendiskusikan kepentingan, dampak, serta solusi berdasarkan peran masing-masing, kemudian mempertimbangkan pandangan kelompok lainnya. Pembahasan mencakup dampak aktivitas manusia terhadap habitat penyu lekang. Perubahan vegetasi dan habitat akibat perubahan lahan, serta hubungan antara kelestarian lingkungan dengan kehidupan ekonomi masyarakat. “Saya ingin peserta didik tidak hanya memahami penyebab hilang serta ancaman terhadap kelestarian flora dan fauna secara teori, tetapi juga mampu melihat bagaimana permasalahan tersebut berkaitan dengan aktivitas manusia dan kehidupan masyarakat,” ujar Kukuh.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengidentifikasi berbagai kepentingan yang muncul dalam permasalahan lingkungan serta merumuskan beberapa alternatif penyelesaian. Solusi yang diusulkan meliputi penerapan zonasi wilayah, pengawasan lingkungan, kajian dampak lingkungan sebelum pembangunan, pembatasan aktivitas yang berpotensi mengganggu habitat penyu, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat lokal. Peserta didik juga mempertimbangkan perlunya pelatihan dan bantuan modal bagi masyarakat sebagai bagian dari transisi menuju sumber mata pencaharian alternatif. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, menyampaikan argumentasi, dan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, serta ekonomi dalam suatu permasalahan. Hal tersebut memperkuat kontribusi kegiatan terhadap SDGs tujuan ke-4, ke-8, ke-14, dan ke-15.
Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan semakin peka terhadap berbagai aktivitas manusia yang dapat menjadi ancaman bagi kelestarian flora dan fauna. Penggunaan isu lingkungan lokal dalam pembelajaran diharapkan dapat membanti peserta didik memahami bahwa pelestarian keanekaragaman hayati membutuhkan perhatian terhadap terhadap kondisi lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat. Pembelajaran berbasis SSI juga diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan sikap peduli lingkungan dan mempertimbangkan prinsip keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. (Kukuh)