Mahasiswa Pendidikan IPA UNY melaksanakan kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMP Negeri 2 Gamping dengan menerapkan Teka-Teki Silang (TTS) sebagai bentuk penugasan pada pembelajaran IPA materi Pengukuran. Kegiatan ini ditujukan bagi murid kelas VII dan sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4, yaitu pendidikan yang berkualitas. Melalui kegiatan ini, mahasiswa PK berupaya mendokumentasikan praktik pembelajaran sederhana yang berkontribusi pada layanan pendidikan yang lebih menarik bagi murid.
Kegiatan ini bertujuan melibatkan murid secara lebih aktif dalam mempelajari istilah-istilah penting pada materi tersebut. Materi Pengukuran merupakan bagian dari Bab 1 Hakikat Sains dan Metode Ilmiah yang memuat banyak istilah, seperti besaran, satuan, dan alat ukur beserta fungsinya. Agar penugasan tidak terasa monoton dan sekadar menjadi kewajiban, TTS dipilih sebagai variasi. Kotak-kotak jawaban disusun dari istilah dan konsep yang telah dipelajari. Untuk mengisinya, murid membaca petunjuk, mengingat kembali penjelasan guru, lalu mencocokkannya dengan istilah yang tepat. Kotak yang saling berpotongan membantu murid memeriksa jawabannya sendiri karena huruf pada satu jawaban dapat menjadi petunjuk bagi jawaban lain. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa PK bersama murid kelas VII dengan dukungan pihak sekolah.
Berdasarkan pengamatan selama pembelajaran, sebagian besar murid tampak antusias, bersemangat mencari jawaban, dan suasana kelas terasa lebih hidup dibandingkan saat mengerjakan tugas konvensional. Pengamatan ini bersifat kualitatif dan tidak dimaksudkan untuk menyimpulkan bahwa TTS meningkatkan hasil belajar. Kegiatan ini juga mendorong murid berperan aktif dalam belajar, tidak hanya mendengarkan tetapi juga berpikir dan mengambil keputusan atas jawabannya. Meskipun hanya langkah kecil di tingkat kelas dan tidak dapat dikatakan mencapai SDGs 4, kegiatan ini mendukung upaya menghadirkan pengalaman belajar yang menarik, melibatkan murid, dan bermakna. Pengalaman ini juga menjadi bahan refleksi bahwa pemilihan aktivitas perlu disesuaikan dengan karakteristik materi dan kebutuhan murid, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh murid maupun sekolah.
Ke depan, TTS diharapkan dapat dikombinasikan dengan kegiatan lain, seperti praktik pengukuran langsung, agar murid tidak hanya mengenal istilah tetapi juga terampil menggunakan alat ukur. Dengan demikian, TTS dapat menjadi salah satu alternatif sederhana untuk membuat pembelajaran IPA lebih menarik dan mendukung pengalaman belajar yang berkualitas bagi murid. (Aulia)