Kimia kerap dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit karena lekat dengan rumus, perhitungan, dan eksperimen di laboratorium. Padahal, Kimia tidak hanya tentang hal-hal tersebut. Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran Kimia dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna bagi murid. Salah satunya melalui praktikum yang memanfaatkan alat dan bahan sederhana yang ramah lingkungan dan mudah dijumpai di lingkungan sekitar. Hal tersebut diterapkan dalam pembelajaran Kimia materi Termokimia oleh Naila Fauziah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta pada Rabu 26/08/26 di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Yogyakarta sebagai program mengajar kegiatan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan melalui model Project Based Learning (PjBL) dengan melibatkan murid dalam berbagai kegiatan praktikum, mulai dari membuat kalorimeter sederhana, menentukan kalor menggunakan kalorimeter, hingga melakukan percobaan elephant toothpaste. Pembelajaran dirancang dengan memanfaatkan alat dan bahan yang lebih ramah lingkungan serta mengintegrasikan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui model PjBL, murid tidak hanya mempelajari konsep Termokimia melalui teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses merancang, membuat, mencoba, dan menganalisis hasil proyek. Murid bekerja secara berkelompok untuk membuat kalorimeter sederhana, menentukan kalor melaui pengukuran dan pengolahan data, serta melakukan percobaan elephant toothpaste untuk mengamati perubahan yang terjadi selama reaksi dan menghubungkannya dengan konsep perubahan energi. Seluruh kegiatan didukung dengan Kembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang membantu murid mencatat hasil pengamatan, mengolah data, dan melakukan analisis. “Melalui kegiatan praktikum ini, saya ingin menunjukkan bahwa pembelajaran Kimia tidak selalu identik dengan rumus yang sulit atau penggunaan bahan yang kompleks. Dengan memanfaatkan alat sederhana dan bahan yang lebih ramah lingkungan, murid dapat memahami konsep Termokimia sekaligus belajar bahwa kegiatan pembelajaran Kimia juga dapat memperhatikan keberlanjutan lingkungan.” Ujar Naila.
Kegiatan pembelajaran memberikan pengalaman yang lebih aktif dan kontekstual bagi murid. Pembuatan kalorimeter sederhana mendorong kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah, sementara kegiatan pengukuran dan analisis data membantu murid menghubungkan konsep teoritis dengan fenomena yang diamati secatra langsung. Kerja kelompok juga melatih kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan tanggung jawab. Pemanfaatan alat sederhana serta penggunaan bahan secara efisien menjadi bagian dari pengenalan prinsip keberlanjutan dalam pembelajaran Kimia. Dengan demikian, kegiatan ini mendukung SDG 4 melalui pembelajaran yang aktif dan bermakna serta SDG 12 melalui pengenalan penggunaan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.
Melalui pembelajaran tersebut, konsep Termokimia diharapkan tidak hanya dipahami sebagai materi yang berkaitan dengan rumus dan perhitungan, tetapi juga sebagai pengetahuan yang dapat diterapkan melalui kegiatan nyata. Penerapan PjBL dengan pendekatan ramah lingkungan diharapkan dapat menjadi menjadi salah satu alternatif pembelajaran Kimia yang menarik, kontekstual, dan bermakna. Kegiatan serupa juga diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang mengintegrasikan pemahaman konsep, keterampilan praktikum, kolaborasi, serta kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan. (Naila)
Eksplorasi Termokimia melalui Proyek Praktikum Ramah Lingkungan Bersama Murid SMA Negeri 4 Yogyakarta
Berita Lain
Post date:
Post date: