Dondong, Bendungan, Wates, Kulon Progo – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar program edukasi sains dan kebencanaan bertajuk “Lava Boom: Edukasi Sains Interaksi melalui Eksperimen Gunung Merapi” di Padukuhan Dondong. Kegiatan ini diikuti 23 anak usia sekolah dasar dan bertujuan mengenalkan konsep reaksi kimia sederhana, proses vulkanisme, serta langkah mitigasi bencana erupsi Gunung Merapi. Program ini dilatarbelakangi kondisi Padukuhan Dondong yang berada pada jalur rawan dampak vulkanik Merapi, salah satu gunung api paling aktif di dunia. Selama ini, edukasi kebencanaan di kawasan tersebut dinilai masih bersifat satu arah dan minim pengalaman langsung bagi anak-anak.
Kegiatan dilaksanakan dalam empat tahap yaitu persiapan, sosialisasi, eksperimen, dan evaluasi. Mahasiswa lebih dulu berkoordinasi dengan Kepala Padukuhan dan tokoh masyarakat untuk memperoleh izin serta dukungan. Setelah itu, peserta dikumpulkan di balai padukuhan untuk mendapat pengenalan singkat tentang kondisi geografis Dondong, proses terjadinya letusan gunung berapi, dan konsep reaksi asam-basa. Pada sesi inti, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan dua sampai tiga anak. Dengan pendampingan mahasiswa, mereka memasukkan soda kue dan pewarna makanan ke “kawah” miniatur gunung buatan dari tanah liat dan kardus bekas, lalu menuangkan campuran cuka dan sabun cuci piring. Reaksi berbusa yang meluber dari puncak miniatur menyerupai lelehan lava. Eksperimen diulang bergiliran agar setiap anak mengalaminya langsung.
Hasil evaluasi menunjukkan antusiasme tinggi. Sekitar 20 dari 23 anak aktif bertanya dan berebut giliran mencampur bahan, sedangkan sisanya ikut terlibat setelah melihat reaksi “letusan” dari kelompok lain. Pemahaman konsep sains juga meningkat. Sebelum kegiatan, hanya sekitar 6 dari 23 anak yang dapat menjelaskan sebab letusan gunung berapi. Setelah eksperimen dan diskusi, 19 anak mampu menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa reaksi pada miniatur terjadi karena pertemuan cuka (asam) dan soda kue (basa) yang menghasilkan gas karbon dioksida. Anak-anak juga berlatih keterampilan proses sains dasar seperti mengamati, memprediksi, dan mengomunikasikan hasil pengamatan. Program ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), pembelajaran sains berbasis eksperimen dan inkuiri membuat anak memahami konsep lewat pengalaman langsung, bukan sekadar hafalan.
Pelaksana mencatat sejumlah tantangan, yakni durasi kegiatan yang singkat sehingga anak belum bisa mencoba berkali-kali, usia peserta yang beragam sehingga bahasa penyampaian perlu disesuaikan, dan jumlah pendamping yang terbatas. Di sisi lain, bahan eksperimen yang murah dan mudah didapat serta dukungan perangkat padukuhan dan orang tua menjadi faktor pendukung utama. Agar dampaknya berkelanjutan, orang tua diharapkan mendampingi anak mengulang eksperimen di rumah atau sekolah dan memasukkan materi mitigasi bencana Merapi ke dalam kegiatan belajar sehari-hari. Program ini juga dinilai layak direplikasi di padukuhan lain di kawasan rawan bencana Merapi. (Muhammad Ilyas Asyhari)
Mahasiswa KKN UNY Ajak Anak-Anak Padukuhan Dondong Belajar Sains Melalui Eksperimen Gunung Meletus
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date: