Program literasi pagi di SMAN 1 Turi yang biasa diisi dengan pengarahan melalui speaker sekolah pada pukul 07.00–07.15 kali ini dimanfaatkan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Matematika untuk menggali lebih dalam persepsi siswa terhadap pelajaran matematika.
Menariknya, metode literasi yang diterapkan di SMAN 1 Turi ini tergolong unik dan sedikit berbeda dibandingkan sekolah lain pada umumnya. Jika di banyak sekolah literasi identik dengan kegiatan membaca buku secara mandiri, di SMAN 1 Turi program literasi pagi justru dikemas fleksibel dan dapat diisi oleh berbagai mata pelajaran, termasuk matematika. Fleksibilitas ini membuka ruang bagi mahasiswa PK untuk menyisipkan sesi refleksi dan penggalian persepsi siswa secara langsung melalui speaker sekolah.
Melalui sesi literasi tersebut, mahasiswa PK mengajukan empat pertanyaan reflektif kepada seluruh murid, yaitu:
1. Bagaimana perasaanmu setiap mendengar kata "matematika"?
2. Apa hal yang membuatmu suka, atau mungkin tidak suka, dengan pelajaran matematika?
3. Ceritakan pengalaman paling berkesan yang pernah kamu alami saat belajar matematika, baik menyenangkan maupun kurang menyenangkan.
4. Apa harapanmu untuk pembelajaran matematika ke depannya?
Siswa diminta mengisi jawaban tersebut pada buku masing-masing kemudian difoto dan diupload melalui tautan Google Drive yang dibagikan bersamaan dengan sesi literasi tersebut.
Hasilnya, jawaban siswa menunjukkan keragaman persepsi yang menarik. Salah satu siswa mengungkapkan alasannya menyukai matematika melalui tulisan berikut:
"Hal yang paling saya suka dalam matematika adalah memasukkan angka ke dalam rumus, meneliti, dan menganalisis sehingga saya belajar banyak dalam pembelajaran ini."
Kutipan tersebut mencerminkan bahwa bagi sebagian siswa, proses berpikir analitis dan ketelitian dalam mengolah angka justru menjadi daya tarik tersendiri dalam belajar matematika.
Di sisi lain, tidak sedikit siswa yang mengaku kesulitan mengikuti pelajaran ini. Salah satu siswa menuliskan:
"Saya kurang suka matematika karena saya tidak bisa memahami materi dengan cepat, jadi saya sering tertinggal dan akhirnya tidak bisa mengerjakan soal."
Pernyataan ini menggambarkan bahwa kecepatan pemahaman materi yang berbeda-beda antarsiswa menjadi salah satu tantangan utama, yang jika tidak segera diatasi dapat menimbulkan rasa tertinggal dan menurunkan motivasi belajar.
Yang menarik, di balik perbedaan pengalaman tersebut, mayoritas siswa menyampaikan harapan yang serupa: mereka ingin pembelajaran matematika dikemas lebih menyenangkan dan tidak menegangkan, agar suasana belajar yang nyaman dapat membantu mereka memahami materi yang selama ini dianggap sulit.
Kegiatan sederhana ini menjadi cerminan nyata bagaimana pendekatan literasi tidak hanya soal membaca teks, tetapi juga membangun kesadaran dan refleksi diri siswa terhadap mata pelajaran yang selama ini sering dianggap momok. Data yang terkumpul dari kegiatan ini dapat menjadi masukan berharga bagi guru dan mahasiswa PK dalam merancang strategi pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, interaktif, dan menyenangkan bagi seluruh siswa.