Sleman, 15 September 2026 - Dalam rangka mewujudkan pembelajaran sains yang kontekstual dan inovatif, SMA Negeri 1 Ngemplak menyelenggarakan praktikum kimia fisik berbasis Discovery Learning untuk materi Termokimia. Kegiatan ini dilaksanakan bersama siswa kelas XI F1 dengan mengeksplorasi termodinamika reaksi eksoterm melalui eksperimen Fire Bubble (Gelembung Api). Kegiatan ini menjadi sarana untuk menjembatani konsep abstrak sains menjadi pengalaman belajar empiris yang mengembangkan pemahaman konsep, penalaran analitis, komunikasi, dan keyakinan diri siswa. Hal tersebut sejalan dengan SDGs 4: Pendidikan Bermutu (Quality Education), melalui penyediaan pengalaman belajar yang interaktif dan mendukung keterampilan abad 21.
Praktikum fire bubble dilaksanakan dengan memanfaatkan larutan surfaktan (deterjen) untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga mampu menangkap fasa gas hidrokarbon rantai pendek, yakni butana (C₄H₁₀), di dalam gelembung sabun. Saat disulut api, terjadi reaksi oksidasi yang sangat cepat (reaksi pembakaran) antara molekul butana dengan gas oksigen (O₂) di udara. Melalui proses ini, siswa diarahkan untuk mengamati perpindahan energi termal (kalor) secara langsung dari sistem (reaksi kimia) menuju lingkungan (udara dan tangan). Pendekatan ini secara nyata mengadopsi prinsip Kimia Hijau (Green Chemistry) karena meniadakan penggunaan pelarut maupun zat kimia reaktif yang toksik (beracun), serta menerapkan reaksi pembakaran dalam skala mikro (microscale chemistry).
Fatah, salah satu siswi kelas XI F1, mengatakan, "Saya sangat antusias mengikuti praktikum ini. Awalnya sempat takut saat menyulut api, tapi ternyata sangat aman jika tangan dilapisi air sebagai pelindung termal. Eksperimen ini membuat saya langsung paham bahwa pada reaksi eksoterm, entalpi produk lebih rendah daripada reaktan, sehingga kalor dilepaskan ke lingkungan dan nilai perubahan entalpinya (ΔH) bernilai negatif."
Kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi yang baik antara mahasiswa PK UNY, guru pamong kimia SMA Negeri 1 Ngemplak yang turut memastikan seluruh protokol Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium berjalan dengan disiplin tinggi. Analisis stoikiometri pada akhir praktikum yang membahas hasil pembakaran berupa uap air (H₂O) dan karbon dioksida (CO₂), serta diskusi lanjutan mengenai efek gas rumah kaca, turut mendidik kesadaran lingkungan siswa. Hal ini sangat mendukung pencapaian SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production) serta SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action).
Guru Pamong Kimia SMA Negeri 1 Ngemplak yang turut mendampingi pelaksanaan praktikum, menilai metode ini sebagai terobosan eksperimental yang brilian. "Kegiatan ini sangat efektif menggeser paradigma pembelajaran kimia dari sekadar hafalan rumus menjadi observasi faktual. Melalui Discovery Learning, kemampuan kognitif siswa sangat terasah karena mereka mengkonstruksi pemahaman mengenai asas kekekalan energi dan mengamati fenomena pelepasan kalor (ΔH < 0) secara langsung," tuturnya.
Selama kegiatan, mahasiswa PK UNY tidak hanya merancang modul ajar dan Lembar Kerja Murid (LKM), tetapi juga menjadi fasilitator utama yang mendampingi proses inkuiri siswa di setiap kelompok praktikum. Kolaborasi perencanaan dan pelaksanaan instrumen evaluasi ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).
Ke depannya, inovasi praktikum berbasis Green Chemistry seperti ini diharapkan dapat terus diintegrasikan sebagai metode edukatif yang berkelanjutan dalam kurikulum sains. Eksperimen sejenis akan memberikan ruang bagi siswa untuk memecahkan masalah, membuktikan hipotesis, bekerja sama dalam tim, serta membangun literasi sains yang kuat. Kolaborasi sinergis antara mahasiswa PK UNY, guru, dan sekolah diharapkan terus berlanjut sebagai estafet dalam menghadirkan pendidikan bermakna dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.( Damay)