Nur Hadi Waryanto, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berhasil mengembangkan model pembelajaran inovatif yang memadukan teknologi digital dengan strategi pemecahan masalah untuk meningkatkan keterlibatan siswa SMP dalam pembelajaran matematika. Inovasi ini mencerminkan pentingnya pendidikan berkualitas, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Model yang diberi nama CPBL-BL (Cybergogy-Problem Based Learning berbasis Blended Learning) ini terbukti secara empiris mampu mendongkrak partisipasi aktif siswa sekaligus kemampuan mereka menyelesaikan soal-soal matematika kontekstual. Penelitian ini memanfaatan teknologi digital sebagai fondasi inovasi pembelajaran yang lebih adaptif dan berdaya guna.
Hal tersebut membawa Nur Hadi memperoleh gelar Doktor di Prodi S3 Pendidikan Matematika FMIPA UNY pada Sidang Promosi Doktor tanggal 30/1/26 di Ballroom Gedung Magister & Doktor Lt.4. Ia berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si. (Ketua), Prof. Dr. Sugiman, M.Si. (Sekretaris), Prof. Dr. Heri Retnawati, M.Pd. (Promotor), Prof. Wahyu Setyaningrum, M.Ed., Ph.D. (Kopromotor), Prof. Dr. Subanji, M.Si. (Penguji I), dan Prof. Dr. Ariyadi Wijaya, M.Sc. (Penguji II).
Penelitian yang dilakukan Nur Hadi Waryanto ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika, terutama di era digital saat ini. Tantangan ini menjadi isu strategis dalam upaya meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar sekaligus mendorong transformasi pendidikan berbasis inovasi. Meskipun teknologi sudah banyak digunakan di sekolah, kebanyakan hanya berfungsi sebagai media penyampai materi, bukan sebagai alat untuk mengaktifkan siswa berpikir, berinteraksi, dan berpartisipasi secara optimal.
Banyak pembelajaran online hanya memindahkan papan tulis ke layar komputer. Siswa tetap pasif, hanya mendengarkan dan mengerjakan soal. Kami ingin mengubah itu. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa keterlibatan siswa baik secara kognitif, emosional, sosial, maupun inisiatif pribadi masih rendah. Padahal, menurut berbagai penelitian, student engagement atau keterlibatan siswa adalah salah satu prediktor terkuat terhadap keberhasilan akademik. Peningkatan keterlibatan ini menjadi elemen penting dalam menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, setara, dan berpusat pada peserta didik.
Model CPBL-BL yang dikembangkan Nur Hadi menggabungkan tiga pendekatan pembelajaran sekaligus. Pertama, Cybergogy, yaitu kerangka pembelajaran digital yang menekankan aspek kognitif (berpikir), emotive (perasaan), dan sosial (interaksi) siswa dalam lingkungan online. Kedua, Problem-Based Learning (PBL), yang menempatkan masalah kontekstual sebagai poros pembelajaran sehingga siswa tidak sekadar menghafal rumus, tetapi belajar memecahkan masalah nyata. Ketiga, Blended Learning, yang mengombinasikan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online untuk memberikan fleksibilitas, akses belajar yang lebih luas, dan pengalaman belajar yang lebih kaya. Integrasi ini memperlihatkan bagaimana inovasi pedagogis dan teknologi dapat berjalan beriringan.
Untuk mendukung implementasi model ini, Nur Hadi mengembangkan berbagai produk pendukung, termasuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) digital, video pembelajaran, media visual, serta Learning Management System (LMS) bernama CyberMath. Pengembangan perangkat ini memperkuat ekosistem pembelajaran digital yang terstruktur, interaktif, dan berorientasi pada kualitas pengalaman belajar siswa — sebuah contoh nyata penerapan inovasi pendidikan berbasis teknologi.
“Model CPBL-BL dinilai memiliki implikasi penting bagi praktik pendidikan matematika di Indonesia, terutama di era digital saat ini. Model seperti CPBL-BL menunjukkan bahwa integrasi IT yang efektif adalah integrasi yang bersandar pada kerangka pedagogis yang jelas, bukan sekadar menambahkan gadget atau aplikasi ke dalam kelas," tegas Nur Hadi.
Dengan keberhasilan pengembangan model CPBL-BL, Nur Hadi Waryanto memberikan kontribusi penting bagi upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di Indonesia. Model ini tidak hanya menawarkan inovasi pedagogis, tetapi juga memberikan solusi praktis bagi guru yang ingin mengintegrasikan teknologi secara efektif dalam pembelajaran. (witono)