Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berkolaborasi dengan Universitas Samudra (UNSAM) sukses menggelar program “Sekolah Tangguh Bencana: Membangun Literasi Risiko, Mitigasi, dan Aksi Pascabencana Berbasis PJBL untuk Siswa SD di Langsa.” Kegiatan ini merupakan respons nyata dunia pendidikan tinggi terhadap bencana banjir yang melanda wilayah Aceh pada awal tahun 2025, dengan Langsa sebagai salah satu daerah yang terdampak cukup parah. Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi kebencanaan dan keterampilan mitigasi bagi siswa, serta kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi antara UNY, UNSAM, dan sekolah-sekolah mitra di Kota Langsa.
Prof. Dr. Tien Aminatun, dosen dari FMIPA UNY yang memiliki keahlian di bidang ekologi dan lingkungan menjadi ketua pada Program Pengadian kepada Masyarakat ini, didampingi oleh dua anggota dari UNY, yakni Rizka Apriani Putri, S.Si., M.Sc. dan Dra. Budiwati, M.Si., serta satu mitra kolaborator dari Universitas Samudra, Dr. Iswahyudi S.P., M.Si. Kolaborasi lintas universitas ini memperkuat sinergi antara perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa dan Sumatera dalam upaya penanggulangan bencana berbasis pendidikan.
Sasaran utama kegiatan ini adalah 60 siswa sekolah dasar dari dua sekolah mitra, yaitu SD Negeri 3 Langsa dan SD Negeri Sungai Lueng. Dipilihnya jenjang SD didasarkan pada pertimbangan bahwa anak-anak merupakan kelompok rentan yang memerlukan pemahaman dini tentang kebencanaan. Melalui program ini, siswa dibekali pengetahuan tentang risiko bencana, langkah-langkah mitigasi sebelum bencana terjadi, serta tindakan yang dapat dilakukan pascabencana. Kegiatan ini bukan sekadar respons sesaat atas bencana, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membangun budaya sadar bencana. Tim Pengabdian menyebutkan bahwa sekolah selayaknya menjadi ruang aman yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan kesiapsiagaan. Ini adalah kontribusi konkret UNY untuk masyarakat Aceh pascabanjir, agar anak-anak kita lebih siap dan tidak lagi menjadi korban utama ketika bencana serupa datang.
Metode pembelajaran yang digunakan dalam program ini adalah Project-Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Siswa diajak untuk memecahkan persoalan nyata yang dekat dengan keseharian mereka. Mereka tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga terlibat aktif dalam simulasi, pembuatan poster mitigasi, hingga merancang denah jalur evakuasi sederhana di lingkungan sekolah masing-masing. Pendekatan ini membuat materi yang berat menjadi ringan dan mudah dipahami anak-anak.
Suasana kegiatan berlangsung sangat dinamis dan penuh semangat. Raut antusias tampak jelas di wajah para guru dan siswa saat mereka mengikuti simulasi tanggap bencana. Mereka dengan sigap mempraktikkan cara melindungi kepala, membuat denah evakuasi kelas hingga mengolah limbah-limbah plastic yang dapat digunakan untuk penanaman tanaman sayur dalam rangka ketahanan pangan pasca nbencana tataupun untuk proses bioremediasi sederhana. Pertanyaan dan diskusi antara guru, siswa dan tim pengabdi mewarnai sesi pengabdian menandakan bahwa proses belajar berjalan menyenangkan tanpa menghilangkan esensi serius dari materi kebencanaan itu sendiri. Mereka mendampingi siswa dengan aktif, bahkan beberapa guru mengaku mendapatkan wawasan baru tentang cara menyampaikan materi mitigasi bencana secara sederhana kepada anak-anak. Para guru berharap metode yang diajarkan dapat terus diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari, meskipun program PkM telah berakhir.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika para siswa dan guru menceritakan pengalaman mereka saat banjir melanda. Sebagian besar dari mereka secara terbuka bercerita tentang rasa takut, kehilangan, hingga kerusakan rumah akibat bencana yang terjadi awal tahun lalu. Tim PkM mencatat, di balik semangat dan keceriaan saat ini, masih tersimpan trauma yang cukup mendalam pada diri beberapa siswa. Temuan ini menjadi perhatian serius yang memerlukan penanganan lanjutan.
Selain mitigasi , kegiatan ini secara holistik bertujuan mencetak Sekolah Tangguh Bencana. Konsep ini tidak hanya bertumpu pada bangunan fisik yang kokoh, tetapi lebih pada kesiapan sumber daya manusia di dalamnya. Mulai dari siswa, guru, hingga staf sekolah, semuanya diharapkan memiliki kapasitas untuk mengenali ancaman, mengurangi risiko, dan bangkit kembali dengan cepat pascabencana. Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang lumpuh saat krisis, melainkan pusat resiliensi komunitas.
Tercapainya tujuan awal program terlihat dari evaluasi singkat yang dilakukan di akhir sesi. Sebagian besar siswa mampu menyebutkan kembali langkah-langkah penyelamatan diri saat bencana, titik kumpul yang aman, dan nomor telepon darurat yang harus dihubungi. Capaian ini tentu menggembirakan, namun Prof. Tien menekankan bahwa untuk benar-benar membentuk ketangguhan yang mengakar, program ini memerlukan keberlanjutan. “Ke depan, perlu ada pendalaman materi yang lebih intensif, khususnya dalam memaksimalkan aspek mitigasi dan membangun resiliensi. Kami melihat potensi besar dari sekolah-sekolah ini untuk menjadi percontohan Sekolah Tangguh Bencana di Kota Langsa. Tapi itu hanya bisa terwujud jika ada program yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan kurikulum lokal,” jelas Prof. Tien Aminatun menegaskan pentingnya komitmen multi-pihak.
Pernyataan tersebut diamini oleh Dr. Iswahyudi dari Universitas Samudra. Sebagai mitra lokal, Unsam memiliki peran strategis dalam menjamin keberlangsungan program. “Kami di UNSAM tentu akan terus mengawal sekolah-sekolah dampingan ini. Jarak yang dekat memungkinkan kami untuk melakukan monitoring dan pendampingan secara lebih rutin.” tuturnya.
Kolaborasi UNY dan UNSAM ini menjadi bukti nyata bahwa universitas tidak hanya berperan sebagai menara gading, melainkan garda terdepan dalam menyelesaikan persoalan kemanusiaan di masyarakat. Dengan dimulainya program Sekolah Tangguh Bencana di Langsa, secercah asa baru tumbuh bagi generasi muda Aceh untuk bangkit, belajar, dan bersiap menghadapi masa depan dengan lebih berdaya dan sigap terhadap setiap ancaman bencana yang mungkin datang. (rizka/witono)