Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ferula Naila Berlianda Maharani, melaksanakan kegiatan pembelajaran praktikum “Pembuatan Telur Asin dengan Prinsip Transpor Membran” yang dimulai pada Selasa, 4 Agustus 2026 dan memasuki tahap panen pada Rabu, 19 Agustus 2026 bersama 36 murid kelas XI AE 2 SMA Negeri 2 Yogyakarta yang terbagi menjadi 9 kelompok praktikum di Laboratorium Biologi. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kependidikan yang dirancang sebagai pembelajaran kooperatif dengan pendekatan Deep Learning, sehingga murid tidak hanya menerima konsep secara teoretis, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengalami dan menemukan konsep melalui percobaan nyata. Melalui praktikum ini, murid menghubungkan konsep transpor membran dengan fenomena pengolahan pangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) pendidikan berkualitas melalui pembelajaran aktif dan kontekstual serta konsumsi dan produksi yang bertanggung Jawab melalui pengenalan pengolahan dan pengawetan pangan sederhana.
Praktikum bertujuan membantu murid memahami prinsip osmosis dan difusi yang terjadi selama proses pengasinan telur sekaligus mengembangkan keterampilan ilmiah melalui kegiatan pengamatan, diskusi, hingga penyusunan kesimpulan berdasarkan data. Kegiatan ini didampingi oleh guru pamong biologi, yaitu Nanik Yuniastuti, S.Pd.Si., M.Pd., dan dilaksanakan oleh mahasiswa PK yang memandu murid selama proses pembelajaran dan praktikum.
Ferula menceritakan, rangkaian praktikum diawali pada Selasa, 4 Agustus 2026 dengan pemberian pre-test untuk mengetahui pemahaman awal murid mengenai konsep transpor membran, dilanjutkan dengan penyampaian dasar teori dan tujuan praktikum oleh mahasiswa PK. Dalam proses pengasinan, larutan garam diluar telur memiliki konsentrasi yang lebih tinggi sehingga garam berdifusi secara bertahap menuju bagian dalam telur, sementara air mengalami perpindahan melalui membran telur. Fenomena tersebut menjadi dasar bagi murid untuk memahami bagaimana proses transpor membran berperan dalam menghasilkan telur asin. Selanjutnya, murid bekerja secara berkelompok untuk menyiapkan larutan garam jenuh dengan melarutkan sekitar 400 gram garam dapur kasar ke dalam 1 liter air. Setiap kelompok menggunakan empat jenis telur, yaitu telur ayam kampung, ayam leghorn, puyuh, dan bebek. Telur yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam toples kaca berisi larutan garam dan disimpan pada suhu ruang selama 10–14 hari. Selama proses pengasinan, murid melakukan pengamatan setiap dua hari sekali dengan mencatat perubahan warna cangkang, kondisi larutan, endapan garam, serta perubahan lain yang ditemukan. Setelah masa perendaman selesai, telur dipanen pada Rabu, 19 Agustus 2026, kemudian direbus selama kurang lebih 20 menit, dikupas, dan diamati karakteristiknya. Murid kemudian melakukan uji organoleptik terhadap tingkat keasinan, tekstur, warna, dan aroma masing-masing sampel. Setelah kegiatan praktikum dan diskusi selesai, murid mengerjakan post-test untuk mengetahui pemahaman setelah mengikuti pembelajaran. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi sebelum setiap murid menyusun laporan praktikum secara individu. Prosedur dan komponen pengamatan tersebut juga tercantum dalam Lembar Kerja Murid (LKM) yang digunakan selama kegiatan.
“Hasil praktikum memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik pada telur asin dari setiap jenis telur. Telur bebek menunjukkan karakteristik kuning telur berwarna oranye pekat, sedikit berminyak, dan bertekstur lembut. Pada beberapa hasil pengamatan, telur puyuh juga menunjukkan kuning telur yang mengeluarkan minyak dengan tekstur yang lembut. Sementara itu, telur ayam kampung cenderung menghasilkan kuning telur berwarna kuning dengan tingkat kematangan yang baik. Adapun pada telur ayam leghorn, rasa asin lebih terasa pada bagian putih telur, sedangkan bagian kuning telur memiliki rasa yang lebih sesuai. Perbedaan karakteristik tersebut menjadi pengalaman belajar bagi murid untuk menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep transpor membran yang telah dipelajari. Melalui proses tersebut, murid tidak hanya memahami osmosis dan difusi secara teoritis, tetapi juga belajar mengamati fenomena secara langsung, mencatat data, membandingkan hasil, berdiskusi, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh”, lanjutnya.
Ferula mengatakan, kegiatan praktikum ini memberikan pengalaman belajar yang tidak berhenti pada pemahaman konsep di dalam kelas, tetapi mendorong murid untuk melihat bagaimana sains hadir dalam kehidupan sehari-hari. Proses bekerja dalam kelompok juga melatih kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Sementara itu, penyusunan laporan secara individu memberikan ruang bagi setiap murid untuk merefleksikan hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini menjadi pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran biologi yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengalaman nyata murid.
“Ke depannya, pembelajaran berbasis praktik seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan pada berbagai topik materi biologi lainnya. Dengan menghadirkan fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, murid diharapkan semakin mampu melihat bahwa pembelajaran sains tidak hanya berlangsung melalui buku dan penjelasan di dalam kelas, tetapi juga melalui proses mengamati, mencoba, menemukan, dan memaknai fenomena di lingkungan sekitar”, harapnya. (fer/witono)