Desy Purwasih, mahasiswa yang juga merupakan tenaga kependidikan FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta berhasil mempertahankan hasil penelitiannya yang berjudul Model Project Creative Pedagogy (PCP) Terintegrasi Etnosains “Sekaten” untuk Meningkatkan Design Thinking Skill dan Scientific Argumentation dihadapan para penguji pada acara Sidang Promosi Doktor yang dilaksanakan Senin, 26/1/26 di Ballroom Gedung Magister dan Doktor FMIPA UNY. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan model pembelajaran inovatif, sekaligus mendukung pemanfaatan dan pelestarian kearifan budaya lokal sebagai sumber belajar.
Dewan penguji pada kesempatan tersebut terdiri dari Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Si., Prof. Dr. Tien Aminatun, M.Si., Prof. Dr. Sulistyo Saputro, M.Si., Ph.D., Prof. Dr. Paidi, M.Si., Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd., dan Prof. Dr. Antuni Wiyarsi, M.Sc.
Pada penelitiannya, Desy mengungkapkan bahwa salah satu bentuk etnosains yang berkembang dan masih dilestarikan di Yogyakarta adalah upacara Sekaten. Upacara ini memiliki rangkaian kegiatan yang sistematis, mulai dari miyos gangsa, numplak wajik, kondur gangsa, hingga grebeg Mulud, yang masing-masing mengandung praktik dan fenomena yang dapat dikaji secara ilmiah. Prosesi numplak wajik dilaksanakan dengan iringan gejog lesung yang jika ditinjau dari sisi sains berkaitan dengan konsep bunyi. Hal ini sejalan dengan temuan Lestari (2022) yang menunjukkan bahwa berbagai konsep fisika seperti pusat gravitasi, getaran, gelombang, dan bunyi dapat dieksplorasi secara kontekstual melalui upacara Sekaten. Upacara Sekaten memiliki potensi yang kuat untuk dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran sains yang kontekstual, bermakna, dan berorientasi pada penguatan literasi serta scientific argumentation
“Bertolak dari kebutuhan pembelajaran di perguruan tinggi yang menuntut kemampuan scientific argumentation dan design thinking skill, diperlukan suatu desain pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada proses berpikir kreatif, reflektif, dan kontekstual. Project- Based Learning (PjBL) memiliki kekuatan dalam memfasilitasi mahasiswa untuk belajar melalui pemecahan masalah nyata dan menghasilkan karya berbasis proyek. Implementasi PjBL dalam praktiknya sering kali lebih menekankan pada pencapaian produk akhir dibandingkan pendalaman proses kreatif dan pemaknaan ide pada tahap perencanaan” ,lanjutnya.
Oleh karena itu, integrasi PjBL dengan creative pedaogy merupakan inovasi baru yang bisa digunakan untuk meningktakan design thinking skill dan kemampuan scientific argumentation. Integrasi ini belum pernah dilakukan dalam pembelajaran di program studi Pendidikan IPA.
Desy menjelaskan, integrasi PjBL dengan creative pedagogy menekankan pengembangan kreativitas melalui interaksi antara creative teaching, teaching for creativity, dan creative learning. Tiga unsur dalam creative pedagogy mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi ide, mengajukan pertanyaan kritis, berani bereksperimen, serta merefleksikan proses belajarnya. Integrasi ini semakin bermakna ketika dikontekstualisasikan dengan upacara Sekaten sebagai etnosains lokal, karena Sekaten tidak hanya merepresentasikan warisan budaya, tetapi juga mengandung berbagai fenomena sains yang dapat dianalisis secara ilmiah.
“Melalui konteks Sekaten, mahasiswa didorong untuk mengaitkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lokal, menyusun argumen berbasis bukti, serta merancang produk pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat”, ungkap Desy. (witono)
Meneliti “SEKATEN” Yogyakarta, Desy Purwasih Meraih Gelar Doktor Pendidikan IPA FMIPA UNY
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date: