Mahasiswa Pendidikan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan pembelajaran Fisika materi Titik Berat pada Kamis, 10 September 2026 di kelas XI B1 SMA Negeri 1 Wates dalam rangka Praktik Kependidikan (PK). Pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) dengan mengangkat permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari serta mengaitkannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam, menanyakan kabar, presensi, serta mengingat kembali materi pada pertemuan sebelumnya. Selanjutnya, peserta didik diajak mengamati gambar Menara Pisa dan video seni menyeimbangkan batu sebagai pemantik untuk memahami bagaimana suatu benda dapat berada dalam kondisi seimbang dan stabil. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik mulai diarahkan untuk menghubungkan konsep keseimbangan dengan materi Titik Berat.
Setelah memperoleh penjelasan mengenai konsep Titik Berat melalui presentasi, peserta didik melanjutkan kegiatan dengan mengerjakan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) secara berkelompok. Dalam LKPD, peserta didik dihadapkan pada permasalahan Pak Anton, warga Yogyakarta yang berencana membangun rumah dengan desain khas joglo modern. Pak Anton menginginkan rumah yang memiliki kestabilan baik dan tidak mudah roboh ketika terjadi guncangan. Berdasarkan permasalahan tersebut, peserta didik diminta menentukan letak titik berat berdasarkan bentuk dan ukuran rumah, kemudian menganalisis hubungan antara titik berat dan kestabilan bangunan. Selama kegiatan berlangsung, peserta didik berdiskusi dan bekerja sama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Pembelajaran berbasis permasalahan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menghubungkan konsep Fisika dengan situasi nyata. Konsep Titik Berat dapat diterapkan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam mempertimbangkan kestabilan bangunan dan jembatan. Dengan demikian, peserta didik dapat melihat bahwa Fisika tidak hanya berkaitan dengan rumus dan perhitungan, tetapi juga berperan dalam pembangunan dan pengembangan teknologi.
Menurut Hani Nur Hidayah, mahasiswa Pendidikan Fisika yang melaksanakan kegiatan, pembelajaran tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik melihat keterkaitan antara konsep Fisika dan penerapannya dalam kehidupan nyata. “Saya ingin peserta didik memahami bahwa Fisika tidak hanya tentang rumus dan perhitungan. Ketika seseorang mendesain atau membangun sesuatu, tentu diperlukan teori dan perhitungan agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya melalui konsep Titik Berat yang berkaitan dengan kestabilan bangunan,” ungkap Hani Nur Hidayah.
Kegiatan pembelajaran ini turut mengenalkan SDGs 9 melalui konteks penerapan konsep Titik Berat dalam pembangunan dan perancangan infrastruktur. Pengenalan tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pembelajaran Fisika dengan isu pembangunan berkelanjutan, khususnya pentingnya inovasi dan infrastruktur yang aman serta stabil. Melalui penerapan PBL, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep Titik Berat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam memecahkan permasalahan kontekstual secara berkelompok. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran Fisika dapat menjadi sarana untuk mengenalkan penerapan ilmu dalam kehidupan nyata sekaligus mendukung pengenalan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan melalui SDGs 9.