Sains kimia memegang peranan vital yang kerap tak disadari publik, mulai dari pengembangan obat-obatan medis hingga penyelesaian tantangan global. Peran mendasar kimiawan dan evaluasi kritis terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi sorotan utama dalam upaya menciptakan masa depan yang berkelanjutan.
Masyarakat umum sering mengasosiasikan inovasi medis dengan dokter atau ahli bedah. Padahal, dokter hanya terlibat pada tahap akhir uji klinis. Proses penemuan obat baru sepenuhnya diampu oleh para ahli kimia.
Hal tersebut dikemukakan oleh Prof. Mauro Mocerino dari Curtin University Australia pada kuliah umum mahasiswa Departemen Pendidikan Kimia FMIPA UNY, yang dilaksanakan Senin, 24/8/26 di Ballroom Gedung Magister dan Doktor. Sebelumnya dilaksanakan penandatanganan naskah kerjasama antara FMIPA UNY dengan pihak Curtin University.
Lebih lanjut Prof. Mauro menjelaskan, pengembangan riset ini memerlukan komitmen waktu 3 hingga 5 tahun dan dana miliaran dolar. Untuk menemukan satu senyawa penuntun (lead compound), ahli kimia rata-rata harus membuat dan menguji lebih dari 1.000 senyawa. Langkah ini krusial untuk memastikan obat efektif menyembuhkan penyakit, aman bagi orang sehat, dan bebas dari racun.
Selain sektor kesehatan, kimia berkaitan erat dengan keberlanjutan bumi. PBB mengartikan pembangunan berkelanjutan sebagai pemenuhan kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang. Untuk merealisasikannya, PBB menetapkan 17 tujuan (SDGs) dengan 169 target terukur.
“Namun, laporan perkembangan menunjukkan fakta memprihatinkan, hanya 18% target yang berjalan sesuai jalur (on track) dan 17% mengalami kemajuan sedang. Total 35% kemajuan ini tergolong rendah. Selain itu sebanyak 35% target lainnya justru mengalami kemunduran atau terhenti sama sekali. SDGs berlaku untuk seluruh dunia, termasuk negara maju seperti Australia dan AS yang masih menghadapi isu ketimpangan sosial serta kesehatan masyarakat adat”, katanya.
Kondisi krisis terlihat nyata pada sektor air dan pangan. Sebanyak 26% populasi dunia (sekitar 2 miliar orang) belum memiliki akses air minum aman, dan hanya 58% yang menikmati fasilitas sanitasi layak. Di sisi lain, 13% pangan hilang dirantai pasokan dan 20% terbuang setelah dibeli konsumen.
Guna mengatasi ancaman krisis tersebut, disiplin ilmu kimia merilis pedoman etis baru. Fokus utama kimia kini bergeser dari sekadar "apa yang dapat dilakukan ilmu kimia" menjadi "apa yang seharusnya dilakukan oleh para kimiawan".
Dijelaskan, para ilmuwan didorong menerapkan inovasi yang bertanggung jawab melalui analisis siklus hidup produk, penggunaan bahan non-toksik, proses kerja inklusif tanpa eksploitasi, serta pelaporan data yang akurat. Prinsip kimia hijau ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam mendorong pemenuhan target SDGs sebelum tenggat waktu 2030. (witono)