Iritabilitas tumbuhan tidak hanya menjadi materi yang dipelajari di dalam kelas, tetapi juga berkaitan erat dengan kemampuan tumbuhan dalam merespons berbagai kondisi lingkungan. Cahaya, sentuhan, air, suhu, dan berbagai rangsangan lainnya dapat memengaruhi respons tumbuhan. Pemahaman tersebut penting agar peserta didik tidak hanya mengenal konsep Biologi, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kondisi lingkungan di sekitar. Berangkat dari hal tersebut, pembelajaran Biologi materi Iritabilitas Tumbuhan dikemas secara aktif dan kontekstual melalui kegiatan Plant Detective dan Plant Rescue Mission. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Khaerani Eka Primawati, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta, dalam rangka kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 2 Ngaglik.
Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 8 September 2026 dengan melibatkan 37 siswa kelas XI A yang terbagi ke dalam enam kelompok. Pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang dikemas melalui kegiatan Plant Detective dan Plant Rescue Mission. Peserta didik mengikuti rangkaian kegiatan melalui empat pos, yaitu Plant Match, Plant Case, Touch Me!, dan Plant Rescue Mission. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik mempelajari berbagai bentuk respons tumbuhan terhadap rangsangan melalui permainan, pemecahan kasus, pengamatan langsung terhadap putri malu (Mimosa pudica), serta aksi sederhana menjaga lingkungan sekitar greenhouse.
Kegiatan diawali dengan Pos 1 - Plant Match, siswa bekerja dalam kelompok untuk menjodohkan berbagai rangsangan dengan respons atau gerak tumbuhan yang sesuai. Kegiatan ini membantu siswa mengenali hubungan antara rangsangan lingkungan dengan respons yang ditunjukkan tumbuhan. Selanjutnya, pada Pos 2 - Plant Case, siswa diberikan beberapa kasus tumbuhan dan diminta menyusun huruf-huruf untuk menemukan jawaban yang tepat. Kegiatan ini mendorong siswa berdiskusi dan menghubungkan permasalahan yang diberikan dengan konsep iritabilitas tumbuhan.
Pada Pos 3 – Touch Me!, siswa melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman putri malu (Mimosa pudica). Siswa memberikan rangsangan berupa sentuhan, mengamati perubahan pada daun, kemudian mengidentifikasi rangsangan dan jenis gerak yang terjadi. Dari pengamatan tersebut, siswa menemukan bahwa daun putri malu menutup atau menguncup setelah disentuh dan mengaitkannya dengan gerak seismonasti. Setelah menyelesaikan tiga pos, siswa melanjutkan Plant Rescue Mission di sekitar greenhouse. Siswa terlebih dahulu mengamati kondisi lingkungan, kemudian melakukan aksi sederhana dengan membersihkan daun-daun kering dan tanaman liar yang telah ditentukan di sekitar area tersebut.
Menurut Khaerani, kegiatan tersebut dirancang agar pembelajaran Iritabilitas Tumbuhan tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada siswa. “Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar bagaimana tumbuhan merespons rangsangan, tetapi juga diajak untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan dan melakukan tindakan sederhana untuk menjaganya.”
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang memadukan pemahaman konsep, kerja sama, pengamatan, dan aksi nyata. Melalui Plant Detective hingga Plant Rescue Mission, siswa tidak hanya belajar mengenali respons tumbuhan, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui tindakan sederhana. Pembelajaran Iritabilitas Tumbuhan diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman Biologi sekaligus kepedulian siswa terhadap kehidupan di daratan sebagai bagian dari dukungan terhadap SDG 15: Life on Land. (Khaerani)
Pembelajaran Iritabilitas Tumbuhan melalui Plant Detective dan Plant Rescue Mission di SMA Negeri 2 Ngaglik
Berita Lain
Post date:
Post date:
Post date:
Post date: