Bantul, 10 September 2026 — Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan warga sekolah terhadap potensi bencana serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) melaksanakan program kerja berupa sosialisasi dan simulasi pemadam kebakaran di SMA N 1 Sewon. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai langkah menghadapi kebakaran, tetapi juga membahas fenomena El Niño, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta pentingnya penghematan air dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai kebakaran dan langkah-langkah yang dapat dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Peserta diberikan pemahaman mengenai penyebab kebakaran, cara mencegah kebakaran, serta tindakan yang tepat ketika menemukan sumber api. Materi ini juga dilengkapi dengan faktor yang mengakibatkan munculnya api. “Api dapat muncul karena adanya 3 elemen pemicu yaitu, oksigen, bahan bakar, dan sumber panas,“ ujar ...
Selain simulasi pemadaman kebakaran, petugas pemadam kebakaran yang menjadi narasumber juga memberikan sosialisasi mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai salah satu permasalahan lingkungan yang dapat memberikan dampak luas terhadap ekosistem dan kehidupan manusia. Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan vegetasi, tetapi juga dapat menghilangkan habitat berbagai organisme, menurunkan keanekaragaman hayati, serta menghasilkan asap dan gas yang dapat menurunkan kualitas udara.
Dalam perspektif Biologi, keberadaan hutan memiliki peranan penting sebagai bagian dari ekosistem. Vegetasi menyediakan habitat dan sumber makanan bagi berbagai organisme, menjaga interaksi antarmakhluk hidup, serta berperan dalam siklus karbon dan air. Ketika vegetasi mengalami kerusakan akibat kebakaran, keseimbangan ekosistem juga dapat terganggu. Hilangnya tumbuhan sebagai produsen dapat memengaruhi organisme lain yang bergantung pada tumbuhan dalam suatu rantai dan jaring-jaring makanan.
Materi berikutnya membahas fenomena El Niño dan kaitannya dengan kondisi lingkungan. El Niño merupakan fenomena iklim yang berkaitan dengan perubahan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik dan dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tertentu, fenomena tersebut dapat berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan sehingga beberapa wilayah mengalami kondisi yang lebih kering.
“Kondisi lingkungan yang lebih kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, terutama ketika vegetasi dan bahan organik berada dalam kondisi kering“ ... menegaskan mengenai dampak yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, ketersediaan air bagi makhluk hidup juga dapat berkurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan kondisi lingkungan dapat memberikan dampak yang saling berkaitan terhadap organisme, ekosistem, dan aktivitas manusia.
Rangkaian kegiatan ini menjadi salah satu bentuk edukasi lingkungan yang menghubungkan pengetahuan Biologi dengan permasalahan nyata di kehidupan sehari-hari. Peserta tidak hanya diajak memahami konsep mengenai organisme dan lingkungan, tetapi juga melihat bagaimana perubahan lingkungan, kebakaran, ketersediaan air, dan kondisi iklim dapat saling berkaitan.
Program kerja ini juga mendukung beberapa (SDGs), khususnya SDG 6: Clean Water and Sanitation, melalui edukasi mengenai penggunaan air secara bijak; SDG 13: Climate Action, melalui peningkatan pemahaman mengenai perubahan dan fenomena iklim serta kesiapsiagaan menghadapi dampaknya; dan SDG 15: Life on Land, melalui peningkatan kesadaran terhadap pencegahan karhutla dan perlindungan ekosistem daratan. Kegiatan kesiapsiagaan terhadap bencana juga sejalan dengan semangat SDG 11: Sustainable Cities and Communities, terutama dalam membangun lingkungan yang lebih aman dan tangguh terhadap risiko bencana.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PK berharap pengetahuan yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi saja, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran untuk mencegah kebakaran, memahami dampak karhutla dan kondisi iklim, serta menggunakan air secara bijak merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama untuk menjaga lingkungan.
Dengan mengintegrasikan edukasi kebencanaan, lingkungan, dan Biologi, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk membentuk warga sekolah yang tidak hanya tanggap terhadap keadaan darurat, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan dan kehidupan di dalamnya.