Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan kegiatan bertajuk “Pengenalan Konsep Pengelolaan Lingkungan yang Ramah Bencana untuk Meningkatkan Ketahanan Siswa, Guru, dan Kawasan Sekolah Dasar Langsa.” Kegiatan ini dilaksanakan di dua sekolah dasar, yaitu SDN 3 Langsa Kota dan SDN Sungai Lueng Kecamatan Langsa Timur, dengan melibatkan siswa, guru, dan warga sekolah secara aktif. Kegiatan ini menunjang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan literasi kebencanaan sejak dini. Selain itu juga merupakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Kegiatan PKM ini bertujuan meningkatkan literasi kebencanaan sejak dini melalui pendekatan edukatif, kontekstual, dan aplikatif. Salah satu fokus utama kegiatan adalah pengenalan teknologi informasi kebencanaan yang mudah digunakan oleh warga sekolah.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim PKM Universitas Negeri Yogyakarta yang diketuai oleh Suhartini, yang berperan dalam perancangan konsep pengelolaan lingkungan ramah bencana. Tim ini didukung oleh anggota Kuntum Febriyantiningrum, Rahmania Pamungkas serta Wenny Pinta Litna Tarigan. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya sadar lingkungan dan tanggap bencana sejak usia sekolah dasar. “Ketahanan terhadap bencana tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui pengetahuan, sikap, dan perilaku ramah lingkungan yang ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Pada sesi pertama, tim PKM UNY memperkenalkan aplikasi INFO BMKG sebagai sarana untuk memantau kondisi cuaca sesuai waktu yang diinginkan. Melalui aplikasi ini, siswa dan guru dikenalkan pada informasi cuaca penting seperti suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, dan arah angin, serta bagaimana informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung keselamatan aktivitas belajar di sekolah maupun di rumah.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan aplikasi SIDARMA, yang digunakan untuk mengetahui kondisi hujan pada suatu wilayah. Aplikasi ini membantu warga sekolah memahami pola hujan dan potensi risiko bencana hidrometeorologi, sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan banjir maupun cuaca ekstrem.
Tidak hanya aspek teknologi kebencanaan, kegiatan PKM ini juga memuat edukasi pemilahan sampah dan pengelolaan lingkungan ramah bencana. Sebelum pematerian, tim pelaksana memberikan pre-test kepada siswa untuk mengukur pengetahuan awal mereka tentang jenis-jenis sampah dan pengelolaan lingkungan. Hasil pre-test menunjukkan bahwa sekitar 50 persen siswa belum mampu membedakan jenis sampah berdasarkan sumber dan karakteristiknya. Temuan ini menjadi dasar bagi tim untuk memberikan penguatan materi secara lebih kontekstual dan interaktif.
Setelah sesi pematerian dan praktik, siswa mengikuti post-test untuk melihat peningkatan pemahaman mereka. Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa secara signifikan, baik dalam mengenali jenis sampah maupun dalam mempraktikkan pemilahan sampah organik, anorganik, dan limbah berbahaya. Sebanyak 85 persen siswa mampu memilah sampah dengan tepat setelah praktik.
Siswa juga menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam memahami prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
Dalam sesi Mengenal Sistem Daur Ulang, siswa diajak berperan aktif dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik, serta mengelompokkan gambar-gambar yang tergolong limbah plastik, limbah berbahaya, dan barang bernilai ekonomis. Materi ini dikaitkan dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sehingga mendukung pembelajaran kontekstual dan pembentukan karakter peduli lingkungan sejak dini. Ketua tim PKM UNY, Suhartini, menyampaikan bahwa ketahanan terhadap bencana tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui pengetahuan, sikap, dan perilaku ramah lingkungan yang ditanamkan sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Guru dan siswa terlihat antusias mengikuti setiap sesi, baik saat pengenalan aplikasi cuaca dan hujan, maupun saat praktik pemilahan sampah dan diskusi interaktif tentang keberlanjutan lingkungan. Guru juga menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengalaman belajar yang nyata, mudah dipahami, dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat “Mari Kita Semua Bersama-sama untuk Keberlanjutan Masa Depan,” Program Pengabdian kepada Masyarakat UNY diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun sekolah dasar yang tangguh bencana, peduli lingkungan, dan berkelanjutan di wilayah Langsa dan sekitarnya. (hartini/witono)