Dalam upaya mengoptimalkan fungsi tata kelola sarana dan prasarana pendidikan dasar dan menengah, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) secara resmi membuka kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Kepala Laboratorium IPA Batch 2 Tahun 2026 pada Sabtu, 25/7/26. Diklat dilaksanakan secara daring.
Dekan FMIPA UNY, Prof. Dr. Dadan Rosana, M.Pd. dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pemangku kepentingan, khususnya Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Kabupaten Brebes, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA Kabupaten Brebes dan Purbalingga, serta segenap panitia pelaksana dari Departemen Pendidikan IPA FMIPA UNY. Prof. Dadan Rosana menegaskan bahwa laboratorium merupakan pilar fundamental dalam pembelajaran sains. Seiring dengan dinamika kurikulum nasional yang menuntut integrasi pendekatan deep learning, keberadaan laboratorium yang terkelola secara akuntabel dan fungsional menjadi syarat mutlak. Pembelajaran IPA tidak boleh sekadar berorientasi pada hafalan teori, melainkan harus berbasis riset kontekstual, pemikatan data empiris, dan pembuktian fakta ilmiah. Oleh karena itu, kegiatan pelatihan ini dirancang untuk memberikan kelayakan legalitas sertifikasi sekaligus meningkatkan kompetensi holistik bagi para kepala laboratorium.
Pelaksanaan diklat berbasis hybrid learning ini diikuti oleh 36 pendidik yang terdiri dari 25 peserta asal Kabupaten Brebes, 7 peserta dari Kabupaten Purbalingga, dan 4 peserta dari jalur mandiri Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.
Dukungan penuh dari pemerintah daerah disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPTK) Dikpora Kabupaten Brebes, Ibu Siwi Widesmi, M.Pd. Beliau menggarisbawahi pentingnya pemenuhan standar kualifikasi kepala laboratorium dan reorientasi kompetensi sekaligus pemenuhan kualifikasi formal pendidik dalam mengelola laboratorium sekolah sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 26 Tahun 2008. Standar regulasi tersebut mencakup empat kompetensi utama: manajerial, profesional, kepribadian, dan sosial.
Pada sesi pemaparan materi perdana, Prof. Dr. Insih Wilujeng, M.Pd menegaskan pentingnya pergeseran paradigma dalam memandang fungsi laboratorium. Laboratorium IPA tidak boleh terisolasi sekadar sebagai struktur fisik atau gedung tertutup yang berisi instrumen praktikum. Dalam kerangka sains modern, laboratorium mencakup pemanfaatan lingkungan eksternal sekolah (seperti ekosistem kebun, kolam, dan area terbuka hijau) sebagai wadah eksplorasi ilmiah yang otentik. Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi empat pilar utama manajemen laboratorium yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), dan evaluasi (controlling) dengan menempatkan sumber daya manusia sebagai determinan paling krusial di samping aspek material, mesin, dan kemitraan.
Prof. Insih Wilujeng menjelaskan lima tipe desain tata ruang laboratorium standar nasional (pentagonal, linier, melingkar, dan variasinya), persyaratan pencahayaan berorientasi Utara-Selatan, fasilitas keselamatan kerja (APAR, kotak P3K, goni basah), instalasi limbah B3, hingga tata kelola inventarisasi berbasis AI/teknologi digital.
Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini diharapkan mampu melahirkan Kepala Laboratorium IPA yang tidak hanya memiliki kualifikasi administrasi yang sah, namun juga memiliki kapasitas manajerial dan kepemimpinan profesional dalam mewujudkan iklim pembelajaran sains yang aman, inovatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Melalui kegiatan diklat ini, FMIPA UNY menegaskan komitmennya dalam mengawal peningkatan mutu pendidikan sains nasional. Diharapkan dari pelatihan ini lahir para pemimpin laboratorium sekolah yang adaptif, inovatif, serta mampu mentransformasi laboratorium menjadi pusat eksplorasi sains yang aman, kreatif, dan menyenangkan bagi generasi masa depan. (endar/witono)