Bantul, 29 Agustus 2026 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan pakan fermentasi menggunakan metode silase di Lembah Sorory, Padukuhan Pelemadu, Kalurahan Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai ini ditujukan kepada masyarakat, khususnya warga yang memiliki atau memelihara ternak. Kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 2 atau Tanpa Kelaparan (Zero Hunger).
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah pakan hijauan menjadi pakan fermentasi yang dapat disimpan dan dimanfaatkan dalam penyediaan pakan ternak. Ketersediaan pakan menjadi salah satu hal penting dalam pemeliharaan ternak, terutama ketika jumlah hijauan mengalami penurunan. Melalui pembuatan silase, pakan hijauan dapat diawetkan melalui proses fermentasi sehingga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam menjaga ketersediaan pakan. Selain itu, pembuatan silase dapat membantu mengawetkan dan menjaga nutrisi pakan serta meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga dalam penyediaannya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan pengertian silase, manfaatnya, proses fermentasi, alat dan bahan yang digunakan, serta cara mengetahui kualitas silase. Alat yang digunakan meliputi chopper atau alat pencacah, ember atau drum, plastik hitam, dan pengaduk. Adapun bahan yang digunakan terdiri atas pakan hijauan sekitar satu ember, polar sekitar 100 gram, EM4 sekitar 10 ml, molase sekitar 10 ml, dan sedikit air secukupnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan silase secara langsung. Pakan hijauan terlebih dahulu dicacah menggunakan chopper hingga berukuran lebih kecil. Setelah itu, dibuat larutan campuran yang terdiri atas polar, EM4, molase, dan sedikit air. Larutan tersebut kemudian dicampurkan dengan pakan hijauan yang telah dicacah dan diaduk hingga merata. Campuran dimasukkan ke dalam ember atau wadah berukuran besar, kemudian dipadatkan untuk mengurangi udara di dalamnya. Setelah itu, wadah ditutup rapat menggunakan plastik untuk menciptakan kondisi kedap udara. Campuran pakan selanjutnya difermentasi selama kurang lebih dua minggu sebelum dilakukan pengamatan terhadap hasil fermentasinya.
Selain praktik pembuatan, masyarakat juga diberikan penjelasan mengenai perawatan selama proses fermentasi dan penyimpanan silase. Wadah yang digunakan perlu disimpan di tempat yang teduh dan sejuk serta tidak terkena sinar matahari secara langsung. Wadah juga harus ditutup rapat dan tidak dibuka sebelum proses fermentasi selesai. Setelah silase siap digunakan, pakan dapat diambil secukupnya dan wadah ditutup kembali untuk menjaga kualitasnya. Sebelum diberikan kepada ternak, silase perlu diperiksa terlebih dahulu berdasarkan aroma, warna, dan teksturnya.
Masyarakat juga diperkenalkan dengan ciri-ciri silase yang berhasil dan tidak berhasil. Silase yang berhasil memiliki aroma asam yang segar atau asam manis dan tidak berbau busuk, warna hijau kekuningan hingga kuning kecokelatan, tekstur padat dan tidak berlendir, serta tidak terasa panas ketika disentuh. Sebaliknya, silase yang tidak berhasil dapat ditandai dengan bau busuk, aroma amonia atau bau yang sangat menyengat, warna yang terlalu gelap atau terlalu pucat, tekstur berlendir atau berjamur, serta terasa panas ketika disentuh. Silase yang kualitasnya diragukan tidak disarankan untuk diberikan kepada ternak.
Melalui kegiatan sosialisasi dan praktik tersebut, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai pengolahan pakan hijauan dengan metode fermentasi serta dapat memahami tahapan pembuatannya secara langsung. Kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kondisi kedap udara selama proses fermentasi, melakukan penyimpanan dengan tepat, dan memeriksa kualitas silase sebelum diberikan kepada ternak. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik dalam membuat pakan fermentasi menggunakan bahan yang relatif mudah diperoleh.
Pemanfaatan pakan hijauan melalui metode silase juga menjadi salah satu bentuk pengoptimalan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat. Pakan hijauan yang telah melalui proses fermentasi dapat disimpan untuk digunakan pada waktu yang diperlukan sehingga penyediaan pakan dapat dilakukan secara lebih terencana. Hal tersebut dapat membantu masyarakat dalam menghadapi keterbatasan pakan dan mendukung keberlanjutan pemeliharaan ternak.
Kegiatan pembuatan pakan fermentasi silase ini mendukung SDGs 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sumber pakan ternak. Pemanfaatan pakan hijauan sebagai bahan utama silase memungkinkan bahan tersebut diawetkan melalui proses fermentasi dan disimpan untuk digunakan kembali. Upaya tersebut berkaitan dengan keberlanjutan ketersediaan pakan dalam kegiatan peternakan masyarakat. Kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara lebih optimal melalui pengolahan dan penyimpanan pakan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNY berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan oleh masyarakat Padukuhan Pelemadu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peternakan masing-masing. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan sosialisasi dan praktik, tetapi dapat dilanjutkan dengan penerapan pembuatan silase secara mandiri oleh masyarakat. Dengan pemanfaatan sumber daya lokal dan pengelolaan pakan yang lebih terencana, masyarakat diharapkan dapat memiliki alternatif dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak serta mendukung keberlanjutan kegiatan peternakan di Padukuhan Pelemadu. ( Fakhriyatu)