SLEMAN – Pemahaman sains yang mendalam tidak hanya diperoleh melalui teori di dalam kelas, melainkan lewat pembuktian praktis yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengangkat fenomena reaksi kimia pada praktikum pembuatan balon gas, siswa SMA Negeri 1 Ngemplak diajak memahami konsep dasar Termokimia sekaligus menyadari pentingnya efisiensi energi demi mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan pembelajaran interaktif pada mata pelajaran Kimia Fase F kelas XI F4 ini dirancang secara terpadu untuk menghubungkan prinsip-prinsip kimia dengan empat sasaran utama pembangunan berkelanjutan. Pendekatan eksperimen langsung (hands-on experiment) ini secara langsung mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana proses pembelajaran tidak lagi berfokus pada hafalan rumus semata, melainkan mengasah kemampuan bernalar kritis, literasi sains, serta keterampilan berkolaborasi siswa saat mengamati perpindahan energi dan mengolah data praktikum.
Selain meningkatkan kualitas pendidikan, fenomena mengembangnya balon akibat reaksi pembentukan gas dan perubahan suhu juga menjadi sarana untuk mengenalkan SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau). Perubahan energi termal melalui reaksi eksoterm dan endoterm dalam eksperimen ini memberikan pemahaman mendasar bagi siswa mengenai prinsip konversi energi dan pelepasan kalor, yang merupakan fondasi penting dalam pengembangan teknologi penyimpan energi (thermal energy storage) serta inovasi bahan bakar ramah lingkungan di masa depan.
Kesadaran akan efisiensi sumber daya turut ditanamkan melalui penerapan model Sistem Tertutup dalam praktikum tersebut, yang selaras dengan prinsip SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Pemasangan balon yang rapat pada mulut botol memperagakan bagaimana sebuah sistem dapat dikendalikan agar materi maupun energi tidak terbuang sia-sia ke lingkungan (preventing heat loss), sekaligus mengajarkan pentingnya penggunaan bahan kimia secara terukur dan bertanggung jawab.
Tidak berhenti di situ, konsep terperangkapnya gas di dalam ruang tertutup balon juga memberikan gambaran visual mengenai SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Analogi sederhana ini membantu siswa memahami bagaimana akumulasi gas dapat memengaruhi kondisi termal di sekitarnya, yang menjadi pijakan awal untuk memahami mekanisme efek rumah kaca dan pentingnya pengelolaan emisi gas di atmosfer.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengamatan fenomena perubahan suhu, diikuti dengan pencampuran reaktan di dalam botol yang segera ditutup dengan balon di bagian mulutnya. Siswa kemudian mengamati reaksi eksoterm atau endoterm yang terjadi, mengukur perubahan suhu pada dinding wadah, serta menganalisis volume gas yang terperangkap. Melalui sinergi antara kerja ilmiah dan wawasan lingkungan ini, SMA Negeri 1 Ngemplak membuktikan bahwa pembelajaran sains di sekolah mampu menjadi sarana nyata dalam mencetak generasi muda yang peka terhadap tantangan energi dan iklim masa depan.