Dwi Astuti, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY), berhasil meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude. Ia menuntaskan studi doktoralnya dalam waktu tiga tahun lima bulan melalui ujian tertutup sekaligus promosi doktor yang dilaksanakan pada Rabu, 15 Juli 2026.
Capaian tersebut menjadi istimewa karena Dwi Astuti memperoleh rekognisi akademik bebas ujian terbuka. Rekognisi diberikan setelah ia memenuhi persyaratan publikasi berupa dua artikel pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2. Dwi Astuti menempuh ujian tertutup dilanjutkan promosi doktor.
Dalam disertasinya, Dwi Astuti mengangkat judul “Desain Pembelajaran Ethno-STEM untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Kolaborasi Siswa SMP.” Penelitian tersebut menghasilkan desain pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal, matematika, serta pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics atau STEAM.
Kebaruan utama penelitian ini terletak pada desain pembelajaran Ethno-STEM yang mencakup model pembelajaran, lintasan belajar, dan prinsip-prinsip desain. Model pembelajaran yang dikembangkan memiliki tahapan pembelajaran dengan akronim LOCAL, yaitu Local Culture, Observe and Organize, Connect with STEM, Act through Creation, serta Learn and Reflect. Tahap Local Culture mengarahkan siswa untuk mengenali dan memahami konteks budaya yang digunakan dalam pembelajaran. Pada tahap Observe and Organize, siswa mengamati serta mengorganisasikan informasi yang diperoleh. Selanjutnya, siswa menghubungkan budaya dan konsep matematika dengan berbagai disiplin STEAM melalui tahap Connect with STEAM. Pada tahap Act through Creation, siswa menerapkan pemahamannya untuk menciptakan suatu karya atau produk. Proses pembelajaran kemudian diakhiri dengan tahap Learn and Reflect, ketika siswa merefleksikan pengalaman, konsep, serta proses kolaborasi yang telah dilakukan.
Dalam pengembangannya, menurut Dwi Astuti, etnomatematika digunakan sebagai landasan filosofis. Etnomatematika memberikan kerangka untuk memahami pengetahuan dan aktivitas matematika yang tumbuh dalam praktik budaya masyarakat. Sementara itu, STEAM digunakan sebagai pendekatan pedagogis untuk membawa pengetahuan matematika berbasis budaya ke dalam pembelajaran formal di sekolah. Integrasi keduanya menghasilkan pendekatan Ethno-STEAM yang memungkinkan siswa mempelajari konsep matematika melalui eksplorasi budaya, penggunaan teknologi, proses rekayasa, kegiatan penciptaan produk, dan refleksi pembelajaran.
“Selain menghasilkan sintaks LOCAL, penelitian ini juga menghasilkan tiga lintasan belajar. Lintasan pertama berkaitan dengan proses matematisasi, yaitu perjalanan belajar siswa dari mengenali objek budaya hingga menemukan konsep matematika formal. Dalam implementasinya, siswa mempelajari budaya membatik, mengidentifikasi pola-pola matematis, menemukan konsep transformasi geometri, kemudian menerapkan konsep tersebut dalam proses perancangan dan praktik membatik. Dengan demikian, konsep matematika tidak diberikan secara langsung, tetapi ditemukan melalui proses eksplorasi dan formalisasi terhadap fenomena budaya”, lanjutnya.
Lintasan kedua berkaitan dengan perkembangan kemampuan berpikir kreatif matematis. Penelitian ini mengkaji bagaimana indikator-indikator berpikir kreatif berkembang melalui setiap tahapan LOCAL, mulai dari mengemukakan beragam ide, menggunakan berbagai strategi, menghasilkan gagasan yang unik, hingga mengembangkan dan menyempurnakan hasil karya.
Lintasan ketiga berfokus pada perkembangan kemampuan kolaborasi siswa. Kemampuan tersebut diamati melalui partisipasi siswa, interaksi antarsiswa, proses pengambilan keputusan, pembagian peran, penyelesaian perbedaan pendapat, serta evaluasi terhadap proses kerja kelompok.
Penelitian ini juga menghasilkan prinsip-prinsip desain yang dapat menjadi panduan bagi guru maupun peneliti dalam mengembangkan pembelajaran Ethno-STEM pada materi dan konteks budaya yang berbeda. Prinsip tersebut menjelaskan kondisi, strategi, serta bentuk dukungan yang diperlukan agar budaya, matematika, dan STEM dapat terintegrasi secara bermakna.
Kebaruan penelitian juga terlihat pada desain riset yang digunakan, Dwi Astuti mengintegrasikan dua tipe penelitian desain, yaitu development studies dan validation studies. Development studies digunakan sebagai pendekatan utama untuk menghasilkan desain pembelajaran Ethno-STEM, sedangkan validation studies diintegrasikan untuk mengembangkan dan memvalidasi lintasan belajar siswa. Kombinasi tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya menghasilkan produk pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai bagaimana dan mengapa proses belajar siswa berkembang selama pembelajaran berlangsung.
Penelitian disertasi Dwi Astuti dilaksanakan pada 2024–2025. Selama dua tahun berturut-turut, penelitian tersebut memperoleh pendanaan melalui hibah Penelitian Disertasi Doktor dari Kemendiktisaintek. Penelitian tersebut juga menghasilkan sejumlah luaran akademik. Dua artikel hasil penelitian berhasil diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus Q2, salah satunya pada Journal on Mathematics Education dan satu artikel lainnya pada jurnal internasional bidang pendidikan STEAM.
Selain publikasi ilmiah, penelitian ini menghasilkan dua buku, yaitu buku desain pembelajaran Ethno-STEAM dan buku perangkat pembelajaran Ethno-STEAM. Dua karya tersebut juga telah memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dalam bentuk hak cipta. Melalui penelitian ini, Dwi Astuti menawarkan alternatif pembelajaran matematika yang tidak memisahkan konsep matematika dari budaya dan kehidupan siswa. Desain pembelajaran Ethno-STEAM bersintaks LOCAL diharapkan dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, kreatif, kolaboratif, dan tetap berorientasi pada penguasaan konsep matematika. (ast)