Apa yang terjadi di dalam akar ketika sebuah tanaman tumbuh? Pertanyaan sederhana tersebut menjadi pintu masuk bagi siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta untuk memahami salah satu proses penting dalam kehidupan, yaitu pembelahan sel. Pembelajaran Biologi tidak selalu harus berhenti pada penjelasan konsep di ruang kelas. Ketika teori dipertemukan dengan objek nyata dan pengalaman mengamati secara langsung, konsep yang semula bersifat abstrak dapat menjadi lebih dekat dengan kehidupan murid. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan pembelajaran materi pembelahan sel mitosis di SMA Negeri 3 Yogyakarta melalui pemanfaatan laboratorium Biologi dan pengamatan ujung akar bawang merah menggunakan mikroskop.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dilaksanakan oleh Nefi Fitrianingsih, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY, pada Senin, 24 Agustus 2026. Pembelajaran dirancang menggunakan model Direct Instruction dengan metode praktikum, sehingga materi yang telah disampaikan melalui penjelasan di kelas kemudian diperkuat melalui kegiatan pengamatan di laboratorium.
Pembelajaran diawali dengan penanaman bawang merah sebagai bagian dari persiapan objek praktikum. Pertumbuhan akar bawang merah kemudian menjadi titik awal bagi siswa untuk menghubungkan fenomena yang dapat diamati sehari-hari dengan proses biologis yang berlangsung pada tingkat sel. Di balik pertumbuhan akar tersebut, terdapat aktivitas pembelahan sel yang berlangsung secara aktif. Setelah memperoleh penjelasan mengenai pembelahan sel, siswa diarahkan untuk mengamati ujung akar bawang merah menggunakan mikroskop. Ujung akar dipilih karena mengandung jaringan yang aktif mengalami pembelahan, sehingga dapat digunakan sebagai objek untuk mengamati tahapan mitosis.
Dalam kegiatan praktikum, mereka berusaha mengenali tahapan mitosis, mulai dari profase, metafase, anafase, hingga telofase, dengan bantuan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk mencatat hasil pengamatan, mengenali karakteristik setiap tahap, membandingkan temuan, serta menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh.
“Pembelajaran Biologi akan lebih dekat dengan murid ketika mereka tidak hanya memahami konsep melalui penjelasan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat dan mengalaminya secara nyata. Melalui praktikum dan dukungan laboratorium, konsep yang semula bersifat abstrak dapat dihadirkan lebih dekat sehingga murid tidak sekadar belajar tentang Biologi, tetapi juga memahami bagaimana ilmu tersebut dipelajari melalui pengamatan,” ungkap Nefi.
Pengalaman di laboratorium memberikan lebih dari sekadar kesempatan untuk menggunakan mikroskop. Murid dilatih untuk mengamati dengan teliti, mengenali karakteristik objek, mencatat informasi, membandingkan hasil, serta menyusun kesimpulan berdasarkan pengamatan. Proses tersebut mendorong murid untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut terlibat dalam membangun pemahaman. Pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya digunakan kembali ketika mereka berhadapan dengan objek nyata. Di sinilah pemanfaatan laboratorium memiliki peran penting. Laboratorium menjadi ruang yang mempertemukan teori, pengalaman, alat, dan proses ilmiah. Fasilitas yang tersedia tidak hanya mendukung terlaksananya praktikum, tetapi juga membuka kesempatan bagi murid untuk belajar melalui pengalaman yang lebih konkret.
Pembelajaran tersebut menjadi salah satu gambaran penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, yang mendorong tersedianya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar yang bermakna. Dalam konteks kegiatan ini, pendidikan berkualitas tidak hanya dimaknai sebagai penyampaian materi, tetapi sebagai proses yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan pengalaman belajar yang relevan.
Pembelajaran mitosis melalui praktikum memberikan ruang bagi murid untuk menghubungkan teori dengan pengamatan, menggunakan instrumen ilmiah, mengolah informasi, serta menyampaikan kesimpulan. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada apa yang harus diketahui murid, tetapi juga pada bagaimana murid belajar memahami pengetahuan melalui pengalaman.
Pemanfaatan laboratorium juga memperlihatkan bahwa kualitas pembelajaran dapat diperkuat melalui optimalisasi sarana pendidikan yang tersedia. Ketika fasilitas digunakan secara tepat, ruang belajar dapat berkembang dari sekadar tempat menerima informasi menjadi ruang untuk mengamati, mengeksplorasi, berdiskusi, dan membangun pemahaman. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi bentuk pemanfaatan laboratorium sebagai bagian dari proses pembelajaran Biologi. Bagi murid, kegiatan ini memberikan pengalaman untuk melihat konsep yang sebelumnya dipelajari secara teoritis. Sementara bagi Nefi sebagai calon pendidik, Praktik Kependidikan menjadi ruang untuk belajar merancang pembelajaran yang menghubungkan konsep, pengalaman, fasilitas, dan kebutuhan belajar murid.
“Harapannya, melalui kegiatan pembelajaran seperti ini, siswa dapat melihat Biologi bukan hanya sebagai mata pelajaran yang berisi kumpulan istilah dan tahapan yang perlu dipahami, tetapi sebagai ilmu yang dapat diamati dan dipelajari melalui pengalaman. Ketika teori yang dipelajari di kelas dapat ditemukan kembali melalui pengamatan di laboratorium, proses belajar menjadi lebih dekat, aktif, dan bermakna,” pungkas Nefi
Dari akar yang tumbuh hingga sel yang terlihat di bawah lensa mikroskop, pembelajaran ini menunjukkan bahwa pendidikan berkualitas dapat hadir melalui pengalaman belajar yang sederhana tetapi bermakna. Murid tidak hanya diberi tahu bagaimana sel membelah, tetapi diberi kesempatan untuk mengamati, memahami, dan membangun pengetahuannya melalui pengalaman. Pada akhirnya, pembelajaran Biologi bukan hanya tentang mengetahui jawaban, tetapi tentang memberikan ruang kepada murid untuk bertanya, mengamati, berpikir, dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari. (Nefi Fitrianingsih)