PEWARNAAN DYE SENSITIZED SOLAR CELL DENGAN LIMBAH KAYU

Salah satu jenis teknologi masa depan yang sedang marak dikembangkan adalah sel surya. Sel surya atau sel fotovoltaik adalah suatu teknologi konversi energi yang memanfaatkan sinar matahari ini merupakan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang berasal dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui dan berdampak negatif pada kehidupan di bumi.  Dalam fotovoltaik, partikel cahaya mengenai sel dan menabrak elektron dari atom penyusun fotovoltaik sehingga menimbulkan arus listrik. Salah satu sistem fotovoltaik yang dipelajari adalah dye sensitized solar cells (DSSC) atau sel surya berbasis sensitiser zat warna sebagai hasil eksploitasi beberapa konsep dan material baru berdasarkan konsep kimia dimana fungsi penyerapan sinar dan pergerakan pembawa muatan dipisahkan dengan penggunaan sensitiser penyerap sinar yang berikatan secara kimia pada permukaan nanopartikel semikonduktor wide band gap titanium dioksida (TiO2). Sel surya fotoelektrokimia dengan menggunakan sensitiser zat warna (DSSC) memiliki keunggulan antara lain rendahnya biaya produksi dan relatif lebih aman terhadap lingkungan. Penggunaan sensitizer sintesis telah mengalami pergeseran dari penggunaan zat warna sintesis menuju zat warna alami. Sensitizer dari buah manggis dan buah senduduk (Melastoma Malabathricum L.) menunjukkan karakterisasi masing-masing penyusun DSSC telah memenuhi syarat sebagai rancangan DSSC dengan nilai efisiensi rancangan DSSC sekitar 2,2 x 10-3 %. Ketersediaan buah manggis dan senduduk masih terbatas sehingga diperlukan adanya pengembangan sensitizer dari zat warna alami alternatif yang ketersediaannya melimpah dengan kualitas yang lebih baik.
Mahasiswa jurusan pendidikan kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta Dwi Rahayu, Adhitya Bagitaningtyas, Atin Suci Pramudianti dan Arif Hidayat meneliti penggunaan serbuk gergajian kayu nangka sebagai sensitizer pada DSSC. Menurut Dwi Rahayu mereka menggunakan limbah kayu nangka karena diketahui bahwa kayu nangka merupakan salah satu tanaman yang mempunyai karakteristik warna dan mudah diperoleh di Indonesia. ”Kayu nangka mengandung zat warna kuning yang disebut morin” kata Dwi, ”Limbah serbuk gergaji kayu nangka memiliki karakteristik warna kuning yang dapat digunakan sebagai sensitizer karena selama ini gergajian kayu nangka mudah didapat dan jumlahnya melimpah dan hanya dibuang begitu saja belum dimanfaatkan secara optimal sehingga mencemari lingkungan, padahal gergajian kayu nangka memiliki kandungan zat warna morin yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap tingkat cahaya.”
Prosedur pengujiannya diungkapkan Adhitya Bagitaningtyas, limbah gergajian pohon nangka dijemur hingga kandungan air berkurang kemudian dimaserasi aseton dan dikocok. Hasil maserasi kemudian disaring dan ditambahkan Na2SO4 anhidrat. Maserasi dilakukan hingga larutan bening. “Setelah proses tersebut lalu ditambahkan 1 gram TiO2 fasa anatas yang dimasukan ke dalam wadah dan ditambahkan larutan asetil aseton dan triton kemudian diaduk dan dihaluskan hingga homogen dan tidak terlalu encer.” ujar Adhitya ” TiO2 dioleskan pada daerah tersebut dan diratakan menggunakan batang gelas pengaduk. Lapis tipis yang diperoleh dibiarkan sebentar diudara terbuka agar mengering kemudian selotip dilepas selanjutnya dipanaskan dalam furnace pada suhu 450oC sekitar 1 jam.” Atin Suci Pramudianti menambahkan bahwa percobaan di Laboratorium Kimia FMIPA UNY menunjukkan TiO2 setelah ditambahkan morin menunjukkan kurva yang sama persis dengan TiO2 tanpa penambahan morin. Ini berarti penambahan morin tidak menyebabkan kerusakan kristal TiO2 yang berfungsi sebagai sel fotovolta dalam DSSC. Kristal anatas murni yang disupport dengan morin juga menunjukkan kesamaan dengan kristal anatas murni. Berdasarkan hasil di atas, morin dapat digunakan untuk sensitizer dalam DSSC. ”Program Kreatifitas Mahasiswa ini berhasil lolos dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional 2011 di Makassar dalam bidang penelitian” tutup Atin.